Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada bapak/ibu guru, silahkan kirim artikel pendidikan atau hasil penelitian yang telah di lakukan untuk dimuat di blog ini

Blogroll

RelmaxTop. Free powerful counter for your website

Macam-Macam Media Pembelajaran

Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Media pembelajaran sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat.


Adapun macam-macam pembelajaran adalah : a) Media visual, b) Media audio, c) media proyeksi diam, d). Media audio visual, e) Media cetakan Sadiman (1986). Bertitik tolak pada pembagian macam-macam media pengajaran diatas., maka penulis meneliti 2 (dua) macam media pembelajaran yang sesuai dan tersedia di daerah penelitian. Adapun media pembelajaran tersebut:

1. Media visual
Media visual termasuk media grtafis, yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dan sumber ke penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Pengertian media visual adalah :“gambar yang secara keseluruhan dari sesuatu yang dijelaskan ke dalam suatu bentuk yang dapat divisualisasikan (Suparto, 1982). Dari macam-macam media visual tersebut diatas, ada tiga macam media visual yang sesuai dengan kegiatan mata pelajaran sejarah yaitu :

a. Gambar/Foto
Gambar / foto merupakan media yang paling umum dipakai. Gambar merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana.

b. Bagan/Chart
Bagan chart termasuk media grafik dan bagan merupakan suatu penyajian diagramatik. Dimana bagan dapat diartikan sebagai suatu lambang visual (visual syabel) untuk mengikhtiarkan, membandingkan dan mempertentangkan kenyataan atau kenyataan-kenyataan (Soeparto, 1983).

c. Peta dan Globe
Globe merupakan lukisan dari permukaan bumi yang diperkecil, sehingga menyerupai dari bentuk aslinya. Pada dasarnya peta dan globe berfungsi untuk menyajikan data-data dan lokasi (Sadiman, 1986)

2. Media Cetak
Media cetak pada kenyataan meliputi bahan bacaan di Indonesia. Bahan bacaan masih sedikit jumlahnya bila dilihat dari kebutuhan. Lagipula kecendrungan dan rangsangan untuk membacapun masih kurang. Padahal kegiatan membaca merupakan suatu yang cukup penting artinya bagi kita/siswa. Dengan membaca secara teratur kita/siswa dapat menyerap gagasan, teori, analisis atau penemuan orang lain. Dan lewat kegiatan pembaca pula orang dapat mengikuti setiap perkembangan baru yang terjadi. Selain meliputi bahan bacaan, media cetakan menampilkan simbol-simbol tertentu. Media cetak pada dasarnya hanya menampilkan simbol-simbol tertentu yaitu huruf (simbol bunyi) (Ali, 1984). Dari macam-macam media cetakan tersebut di atas, penulis mengambil 3 (tiga) macam antara lain :

a. Buku
Buku adalah merupakan sarana yang penting bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Karena pada hakekatnya penggunaan media buku dalam proses belajar mengajar adalah bertujuan untuk mempermudah siswa belajar (Purwodarminto, 1986).

b. Majalah
Membaca majalah berarti mempelajari hasil karya tulis para ahli menurut bidangnya. Membaca majalah adalah merupakan suatu cara atau sesuatu sarana untuk memelihara tingkat pengetahuan sendiri serta untuk menambah pengetahuan baru. Majalah merupakan sarana untuk menggugah minat siswa terhadap suatu masalah pada masa lampau atau masa sekarang. Majalah ini memuat aneka peristiwa baik tentang pengembangan di bidang pendidikan, juga memuat tentang artikel-artikel mengenai peristiwa sejarah pada masal lampau. Hal ini merupakan bahan penunjang bagi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

c. Surat kabar atau koran
Sedangkan surat kabar juga merupakan sarana penunjang mata pelajaran sejarah, karena surat kabar merupakan suatu cara untuk menambah pengetahuan baru bagi siswa.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat audio, visual, maupun audi-visual, bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.
Lanjutkan ... → Macam-Macam Media Pembelajaran

Prinsip pendekatan Belajar Aktif

Terjadinya kesenjangan yang nyata antara anak yang cerdas dan anak yang kurang cerdas dalam pencapaian tujuan pembelajaran, merupakan salah satu bukti kegagalan dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini terjadi karena pelaksanaan pembelajaran di sekolah, umumnya kurang memperhatikan perbedaan individual anak dan pelaksanaannya hanya didasarkan pada keinginan guru, sehingga sulit untuk dapat mengantarkan anak didik ke arah pencapaian tujuan pembelajaran. Bukti-bukti ini dijadikan acuan pemerintah untuk menerapkan strategi pembelajaran active learning. Agar pelaksanaan strategi ini optimal, pendidik/guru harus mengetahui prinsip-prinsip pelaksanaan strategi active learning.

Pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (active learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.

Prinsip pendekatan Belajar Aktif
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pendekatan belajar aktif (active learning strategy) adalah tingkah laku yang mendasar bagi siswa yang selalu nampak dan menggambarkan keterlibatannya dalam proses belajar mengajar baik keterlibatan mental, intelektual maupun emosional yang dalam banyak hal dapat diisyaratkan sebagai keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktifan fisik.

Sedangkan dalam penerapan strategi belajar aktif, seorang guru harus mampu membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang dan merangsang daya cipta siswa untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa. Untuk itu seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam menerapkan pendekatan belajar aktif (active learning strategy), sebagaimana yang diungkapkan oleh Semiawan (1992: 10) dan Zuhairini (1993: 116-118) bahwa prinsip-prinsip penerapan pendekatan belajar aktif (active learning strategy) adalah sebagai berikut:
1) Prinsip Motivasi
Motif adalah daya dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Kalau seorang siswa rajin belajar, guru hendaknya menyelidiki apa kiranya motif yang mendorongnya. Kalau seorang siswa malas belajar, guru hendaknya menyelidiki mengapa ia berbuat demikian. Guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan dan atau ditingkatkan dalam diri siswa.

Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi dari dalam diri anak (intrinsik) dan motivasi dari luar diri anak (ekstrinsik). Motivasi dalam diri dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, keinginan untuk mencoba, dan hasrat untuk maju dalam belajar. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran, misalnya melalui pujian, hukuman, misalnya dengan penugasan untuk memperbaiki pekerjaan rumahnya (Semiawan, 1992: 10).

2) Prinsip Latar atau Konteks
Kegiatan belajar tidak terjadi dalam kekosongan. Sudah jelas, para siswa yang mempelajari sesuatu hal yang baru telah pula mengetahui hal-hal lain yang secara langsung atau tak langsung berkaitan. Karena itu, para guru perlu meyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilan, sikap, dan pengalaman yang telah dimiliki para siswa. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan bahan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru atau dipelajari para siswa. Dalam mengajarkan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan atau hewan misalnya, para guru dapat mengaitkannya dengan pengalaman para siswa dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang dipelihara orang tuanya, yang berada dilingkungan sekitarnya. Dengan cara ini, para siswa akan lebih mudah menangkap dan memahami bahan pelajaran yang baru (Semiawan, 1992: 10).

3) Prinsip Keterarahan kepada Titik Pusat atau Focus Tertentu.
Seorang guru diharapkan dapat membuat suatu bentuk atau pola pelajaran, agar pelajaran tidak terpecah-pecah dan perhatian murid terhadap pelajaran dapat terpusat pada materi tertentu. Untuk itu seorang guru harus merumuskan dengan jelas masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab. Upaya ini akan dapat membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan memberikan arah kepada tujuan yang hendak dicpai secara tepat (Zuhairini dkk, 1993: 117).

4) Prinsip Hubungan Social atau Sosialisasi
Dalam belajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama, misalnya dalam kerja kelompok, daripada jika dikerjakan sendirian oleh masing-masing siswa. Belajar mengenai bahan bangunan yang biasanya digunakan oleh masyarakat dalam membangun rumah tentu saja akan lebih mudah dan lebih cepat jika para siswa bekerja sama. Mereka dapat dibagi kedalam kelompok dan kepada setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak (Semiawan, 1992: 11).

5) Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan dari anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan otot dan pikirannya. Semakin anak bertumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin bertambah kadar berpikir. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya (Semiawan, 1992: 11).

6) Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Zuhairini dkk (1993: 117) mengungkapkan bahwa “masing-masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Untuk itu para guru diharapkan tidak memperlakukan sama terhadap siswa-siswanya. Seorang guru diharapkan dapat mempelajari perbedaan itu agar kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapatlah ditumbuh kembangkan dengan seoptimal mungkin”.

7) Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa informasi yang telah dimiliki. Informasi guru tersebut hendaknya dibatasi pada informasi yang benar-benar mendasar dan ‘memancing’ siswa untuk ‘mengail’ informasi selanjutnya. Jika para siswa ini diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka mereka akan merasakan getaran pikiran, perasaan dan hati. Getaran-getaran dalam diri siswa ini akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah menggairahkan (Zuhairini dkk, 1993: 117-118).

8) Prinsip Pemecahan Masalah
Seluruh kegiatan siswa akan terarah jika didorong untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Guna mencapai tujuan-tujuan, para siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah. Kepekaan terhadap masalah dapat ditimbulkan jika para siswa dihadapkan kepada situasi yang memerlukan pemecahan. Para guru hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh taraf kemampuan para siswa (Semiawan, 1992: 13).

Jika prinsip-prinsip ini diterapkan dalam proses belajar mengajar nyata dikelas, maka pintu kearah pendekatan belajar aktif (active learning strategy) mulai terbuka.
Sumber: http://kabar-pendidikan.blogspot.com/search/label/Active%20Learning
Lanjutkan ... → Prinsip pendekatan Belajar Aktif

Menerima Kritikan sebagai Ciri Manusia Berkarakter

Khalifah Umar bin Abdul Aziz seperti biasanya, rutin tiap tahun mengundang para ulama dan para cendekiawan untuk datang ke istananya. Khalifah mengadakan rutinitas tersebut bukan tanpa alasan, ia mengundang orang-orang tersebut untuk meminta nasehat dan kritikan mengenai segala hal entah itu mengenai pemerintahan maupun pribadinya. Salah satu khalifah yang terkenal bijaksana dan dicintai rakyatnya itu tentu paham apa makna dari nasehat dan kritikan yang akan diterimanya.

Maka berbondong-bondonglah ulama dan cendekiawan ke istana atas undangan khalifah. Dan ketika di dalam istana satu persatu diantara mereka bergiliran dan memberikan nasehat serta kritikan beragam kepada khalifah.

Ada yang mengingatkan khalifah untuk terus-teruslah mengingat Allah, ada yang mengingatkan untuk terus menuntut ilmu, dan nasehat-nasehat lainnya yang tentu bersifat membangun baik untuk diri khalifah sendiri maupun bagi rakyat umumnya.

Ketika undangan pemberi nasehat sudah hampir habis tiba-tiba saja datang seorang anak kecil menghadap khalifah. Tanpa tedeng aling-aling anak kecil tersebut lantas memberi nasehat kepada khalifah yang agung tersebut, “Ya Khalifah yang dirahmati Allah, takutlah selalu kepada Allah.”

Mendengar dirinya dinasehati oleh seorang anak kecil, muncullah sifat manusiawi sang khalifah. Dengan nada tinggi khalifah tersebut menjawab, “Siapa engkau gerangan anak kecil, berani-beraninya menasehati khalifah seperti aku?”

Lantas dengan pembawaan tenang anak kecil tersebut menjawab, “Ya khalifah yang dirahmati Allah…seandainya segala sesuatu dilihat dan ditentukan dari segi usia, tentu ada yang lebih pantas menduduki singgasana itu selain engkau!”

Mendapat jawaban tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tersadarkan. Ia lantas mencium kening anak tersebut dan mengucapkan istigfar atas kelalaiannya.

Itulah pemimpin, itulah tauladan, itulah sosok yang benar-benar pantas untuk kita agungkan sebagai manusia yang secara intelek maupun karakter memang pantas menjadi seorang pemimpin. Bukan semacam para politikus kita yang senang mengumbar dan berbalas kritikan yang bersifat menjatuhkan dan mengalahkan. Bahkan dapat kita amati sendiri, bila salah satu politikus dalam berdebat sudah mulai tersudut karena memang argumentasi yang dikemukakannya begitu lemah, maka cara apapun akan ia utarakan meski harus menggunakan argumentasi kusir. Maka, mulailah debat kusir, debat berdasarkan subjektifitas dan asumsi belaka, bukan fakta.

Seorang ahli pendidikan mengatakan, pendidikan yang utama adalah membentuk manusia yang berkarakter dan memiliki intelektual serta tubuh yang sehat. Singkatnya, menyeimbangkan antara afektif, kognitif, dan psikomotor. Pendapat ahli pendidikan yang menempatkan karakter di posisi pertama itu sejalan dengan dengan cita-cita bangsa yang dapat kita kutip dari syair lagu Indonesia Raya, yang juga lebih mengutamakan pendidikan di bidang karakter lebih dahulu bukan intelek seperti dalam kutipan syair berikut:

…Bangunlah jiwanya bangunlah badannya…

Bukan

...Bangunlah badannya bangunlah jiwanya…

Bukan pula syair kaum hedonisme, matrealisme, dan kaum pencitraan yang melulu mementingkan intelek dan fisik belaka dengan melalaikan karakter:

...Bangunlah badannya bangunlah badannya…

Para pemimpin kita, tentu adalah orang-orang yang tidak diragukan kecerdasan dan pendidikan intelektualnya. Hal ini dibuktikan dengan pendidikan mereka yang minimal Strata-1. Namun tentu saja cerdas intelektual tidak cukup bila tanpa diikuti kecerdasan karakter. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, banyak sekali peminpin daerah yang menjadi tersangka korupsi. Ironis. Barangkali sudah saatnya kita sekarang mengutamakan pendidikan berkarakter. Agar Indonesia yang kita idamkan sekain terwujud.

Dan syukurlah, saya mendengar pendidikan berkarakter tersebut sudah diinstrusikan oleh presiden dan sudah masuk pula dalam konstitusi RI. Tinggal pelaksanaan dan pematangannya.
Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2011/02/02/menerima-kritikan-sebagai-ciri-manusia-berkarakter/
Lanjutkan ... → Menerima Kritikan sebagai Ciri Manusia Berkarakter

Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi

Macam Macam Kecerdasan Anak Dan Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi - Manusia memiliki kecerdasan intelektual dan tidak di miliki oleh mahkluk lainnya yang ada di bumi. Apa sih sebetulnya kecerdasan itu? Kata kecerdasan merupakan istilah umum yang sering dipakai untuk menjelaskan tentang sifat pikiran yang di dalamnya mencakup kemampuan seseorang misalnya saja kemampuan berfikir, merencanakan, memecahkan suatu masalah, memahami sebuah ide atau gagasan, memakai bahasa serta belajar.

Kecerdasan sangat erat hubungannya dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita sering mendengar istilah IQ dan untuk menguji tingkat kecerdasan seseorang dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang sering di namakan atau disebut sebagai tes IQ. Baca juga info lain untuk kategori pendidikan , Contoh Proposal Beasiswa Proposal Bantuan Dana Pendidikan , Program Beasiswa Unggulan 2011 Jenjang Study Pendidikan Untuk Calon Mahasiswa Unggulan S1-S3 Tahun 2011 , Proposal Beasiswa Contoh Cara Pembuatan Pengajuan Permohonan Beasiswa

Menurut Howard Gardner, potensi diri di sebut juga kecerdasan. Lebih jauh dinyatakan, setiap orang memiliki kecerdasan majemuk. Penemuan Gardner ini sekaligus membantah pandangan yang selama ini dianut oleh kebanyakan orang bahwa yang bisa berprestasi hanyalah mereka yang memiliki inteligensi akademik (IQ) tinggi.

Menurut Gardner, setidaknya ada delapan kecerdasan dasar. Adapun kedeplapan kecerdasan dasar tersebut meliputi : kecerdasan lingustik, matematis-logis, spasial, kinestetis jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Keterangan ringkasnya adalah sebagai berikut (Pengertian, Komponen inti, Kegiatan budaya, Relevansi dengan kondisi kekinian, Profesi relevan, Contoh Figur)

1. Lingustik.
Kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.
Kepekaan pada bunyi, stuktur, makna, fungsi kata, dan bahasa.
Budaya berbicara, pembacaan cerita, kesusastraan.
Kini komunikasi lisan dan tertulis memainkan peranan amat penting.
Guru, sekertaris, pendongeng, orator, politisi, sastrawan, penulis, editor, wartawan, ilmuwan sosial.
Virginia Wolf, Martin Luther King, Taufiq Ismail, Geonawan Mohamad, Pramudya Ananta Toer.

2. Metematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar.
kepekaan pada dan kapasitas mencerna pola-pola logis atau numeris kemampuan mengolah alur pikiran yang panjang.
Penemuan ilmiah, teori metematika, sistem klasifikasi, dan penghitungan.
Semakin penting dengan munculnya komputer.
Insinyur, ahli matematika, akuntan pajak, ahli statistik, ilmuwan, programer komputer, ahli logika, filsuf.
Madame Currie, BlasiePascal, Albert Einstein, Andi Hakim Nasoetion.

3. Spasial
Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikannya.
Kepekaan mempersepsi (merasakan) dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasi persepsi awal.
Karya-karya seni, Sistem navigasi, desain arsitektur, karya cipta.
Semakin pentinga dengan munculnya video dan teknologi visual lainnya.
Pemburu, pramuka, pemandu, dekorator interior, arsitek, seniman, ahli tata kota.

4. Kinestetis Jasmani
Kemampuan menggunakan seluruh tubuhnya.
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.
Kerajinan tangan, kemampuan atletik, karya-karya drama, tarian , seni pahat.
Berperan penting selama periode agraris.
Pilot, Aktor, pemain pantomim, atlet, penari, perajin, pematung, ahli mekanik, dokter bedah, tukang kayu, montir.
Ben Johnson, Rudi Hartono, Pele

5. Musikal
Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah dan mengekspresikannya.
Kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titinada, dan warna nada apresiasi bentuk-bentuk ekspresi musikal.
Komposisi musik, penampilan di panggung, rekaman.
Berperan penting dalam budaya lisan, ketika komunikasi, lebih bersifat musikal.
Penikmat musik, kritikus musik, komposer, penyanyi.
Celin Dion, The Queen, Pavaroti, Beethoven, Adie MS, Erwin Gutawa.

6. Interpersonal
Kemampuan memperseosi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.
Kemampuan mencerna dan meresoins secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain.
Dokumen politik, lembaga sosial.
Semakin penting dengan meningkatnya usaha-usaha dalam bidang jasa.
Politisi, Konselor, psikolog, event organizer, pengusaha.
Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Soekarno, Bill Gates.

7. Intrapersonal.
Kemampuan memahami diri sendiri dan berindak berdasarkan pemahaman tersebut.
Memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
Sistem keagamaan, teori psikologi, ritual hidup sehari-hari.
Terus memiliki peran penting karena perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, yang banyak dihadapkan pada masalah-masalah pengambilan keputusan.
Psikoterapis, Pemimpin keagamaan.
Victor Frankl.

8. Naturalis
Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora san fauna di lingkungan sekitar.
Keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara informal, maupun formal.
Taksonomi umum, pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan, upacara berburu, mitologi ruh binatang.
Dewasa ini orang-orang yang peduli lingkungan memiliki peran semakin besar untuk melestarikan ekosistem yang terancam punah.
Peneliti alam , ahli biologi, dokter hewan, aktifis lingkungan pakar ekologim petani.
Charles Darwin, Jane Goodal.

Nih ciri-cirinya :

A.Kecerdasan Linguistik
1.Suka membaca buku
2.Menyukai pantun, permainan kata, serangkaian kata yang sukar diucapkan
3.Menulis dengan baik, isi tulisan bagus.
4.Suka bercerita panjang lebar atau menyampaikan lelucon dan kisah-kisah
5.Dapat mengingat nama, tempat, tanggal, atau hal-hal sepele
6.Suka mendengarkan pernyataan-pernyataan lisan (cerita, ulasan radio, dsb.)
7.Suka game permainan kata
8.Mengeja kata dengan tepat
9.Memiliki kosakata sejak kecil
10.Berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang sangat verbal

B.Kecerdasan Matematis-logis
1.Suka permainan catur, main dam, atau game strategi lain
2.Suka mengerjakan teka-teki logika atau soal-soal yang sulit
3.Suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain
4.Senang melakukan ekperimen selama pelajaran ilmu pasti atau pada waktu luang
5.Banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal
6.Suka bekerja atau bermain dengan angka
7.Suka pelajaran matematika, atau pekerjaan yang melibatkan angka
8.Menganggap game matematika dan komputer menarik
9.Menunjukkan minat pada mata pelajaran yang berhubungan dengan sains
10.Dapat mengerjakan tes berpikir logis tipe Piagetian

C.Kecerdasan Spasial
1.Suka melamun
2.Suka kegiatan seni
3.Pandai menggambar
4.Senang melihat film, slide, atau presentasi visual lain
5.Suka mengerjakan puzzle, labirin, atau kegiatan visual sejenis
6.Dapat melaporkan bayangan visual dengan jelas
7.Lebih mudah membaca peta, diagram, dan grafik dari pada teks
8.Dapat membangun konstruksi tiga dimensi yang menarik
9.Lebih mudah belajar dengan gambar dari pada teks
10.Membuat coret-coret di buku kerja, kertas, atau bahan-bahan lain

D.Kecerdasan Kinestetis-Jasmani
1.Selalu bergerak, tidak bisa diam, mengetuk-ngetuk, atau gelisah ketika duduk lama di suatu tempat
2.Menonjol di salah satu atau lebih cabang olahraga
3.Mampu mengekspresikan diri secara dramatis
4.Suka berlari, melompat, gulat, atau kegiatan semacam
5.Menunjukkan kemahiran dalam bidang keterampilan (misalnya pertukangan, menjahit, bengkel) atau memiliki koordinasi motorik halus yang baik dalam hal-hal lain
6.Pandai meniru gerak isyarat atau tingkah laku orang lain
7.Suka membongkar pasang barang
8.Menyentuh (dengan tangan) barang-barang yang baru ditemuinya
9.Menampakkan berbagai macam sensasi fisik ketika berpikir atau bekerja
10.Suka bekerja dengan tanah liat, atau pengalaman yang melibatkan sentuhan tangan lain

E.Kecerdasan Musikal
1.Bersenandung tanpa sadar
2.Mengetuk-ngetuk meja berirama saat sedang bekerja
3.Bersemangat ketika musik dimainkan
4.Menyanyikan lagu yang tidak diajarkan di kelas
5.Dapat menunjukkan nada yang sumbang
6.Dapat mengingat melodi lagu
7.Memiliki suara yang merdu
8.Memainkan alat musik atau bernyanyi bersama paduan suara atau kelompok lain
9.Memiliki cara berbicara dan/atau bergerak yang berirama
10.Peka pada bunyi-bunyian di sekitar

F.Kecerdasan Interpersonal
1.Mudah bergaul
2.Menjadi anggota klub, panitia, atau kelompok informal di antara teman sebaya
3.Mempunyai dua atau lebih teman dekat
4.Memiliki empati yang baik atau perhatian kepada orang lain (sesama)
5.Banyak disukai teman
6. Suka bersosialisasi dengan teman sebaya
7.Senang menjadi pemimpin
8.Memberi saran kepada teman yang mempunyai masalah
9.Senang mengajari anak-anak lain secara informal
10.Suka bermain dengan teman sebaya

G.Kecerdasan Intrapersonal
1.Memiliki perencanaan diri yang baik
2.Lebih memilih bekerja sendiri dari pada bekerjasama dengan orang lain
3.Tidak mengalami masalah jika ditinggalkan bermain atau belajar sendirian
4.Dapat mengekspresikan perasaan secara akurat
5.Menunjukkan sikap mandiri atau kemauan yang keras
6.Memahami dengan baik kekurangan dan kelebihan diri
7.Memiliki gaya hidup dan gaya belajar dengan irama tersendiri
8.Memiliki minat dan hobi yang jarang bicarakan
9.Mampu belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang pernah dialami
10.Memiliki rasa penghargaan terhadap diri sendiri yang baik

H.Kecerdasan Naturalis
1.Senang menyiram dan merawat tanaman di ruang kelas atau rumah
2.Membawa binatang kecil/serangga, bunga atau benda alam lain ke sekolah untuk dipamerkan kepada teman sekelas atau guru
3.Dapat mengerjakan dengan baik tugas/pekerjaan yang bersinggungan dengan sistem kehidupan (misalnya, topik biologi dalam pelajaran ilmu pasti, isu lingkungan dalam pelajaran ilmu sosial)
4.Berbicara banyak tentang binatang kesayangan, atau lokasi-lokasi alam favorit ketika bercerita di kelas
5.Suka karya wisata di alam, ke kebun binatang, atau ke museum purbakala
6.Peka pada bentuk-bentuk alam (misalnya, ketika berjalan-jalan dengan teman sekelas, akan memperhatikan gunung-gunung, awan-awan atau jika dalam lingkungan perkotaan, kemampuannya ditunjukkan dengan kepekaan pada bentuk-bentuk budaya populer, seperti model sepatu karet atau model mobil)
7.Suka bermain di sekitar kandang kelinci, akuarium, atau terarium yang ada di kelas
8.Menunjukkan minat pada ekologi, alam, tanaman, atau binatang
9.Menyerukan hak-hak binatang atau perlunya melindungi planet bumi di kelas
10.Suka melakukan proyek yang berhubungan dengan alam, misalnya mengamati burung, mengumpulkan serangga atau kupu-kupu, mempelajari pohon atau memelihara binatang.
Lanjutkan ... → Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi

Model Pengajaran (Sains) Konstruktivis

Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomen yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu, keaktifan seseorang yang ingin tahu amat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.[1]

Grennon Brooks dan Brooks menyebutkan bahwa prinsip utama pengajaran yang dianut oleh para konstruktivis yaitu: (a) mengajukan problem-problem yang keberadaannya relevan dengan murid; (b) menyusun pembelajaran mengitari ide-ide besar atau konsep-konsep utama; (c) mencari dan menghargai sudut pandang murid; (d) mengadaptasi kurikulum yang dialamatkan kepada anggapan-anggapan murid; (e) menilai pembelajaran murid dalam konteks pengajaran. [2]

Ditambahkan pula oleh Suparno bahwa dengan mengajukan situasi konflik atau anomali (dalam proses pengajaran) yang membuat murid dipaksa untuk berpikir lebih mendalam serta situasi yang menuntut mereka untuk membela diri dan menjelaskan lebih rinci, akan mengembangkan pengetahuan mereka. [3] Kemudian, Friedl juga berpendapat bahwa seorang guru harus memperhatikan penggunaan discrepancy event dalam kegiatan pengajaran supaya pengajaran sainsnya menarik. Discrepancy event adalah kejadian yang tidak sesuai dengan anggapan umum. Friedl menjelaskannya lebih lanjut,“ A good dicrepant event tends to create a strong feeling in the observer. Generally, there will be an inner feeling of “waiting to know.” As children stare in disbelief at some of the events, they simply have to know they work.” [4] Atau dengan kata lain, kejadian-kejadian yang tidak sesuai dengan anggapan dasar atau anggapan umum sangat baik untuk menciptakan dorongan atau semangat atau perasaan dalam diri anak.
Konstruktivisme menyediakan seperti dasar-dasar bagi beberapa reformasi yang sedang berlangsung dalam pendidikan.[5] Dalam konteks pengajaran sains untuk anak-anak, menurut Chiapetta dan Koballa, langkah pengajaran (konstruktivis) yang dapat dilakukan di antaranya seperti dengan penekanan pada penemuan dan investigasi laboraturium. [6]
Maksudnya, anak ditekankan dan diharuskan membangun sendiri pengetahuan dan pemahaman sains mereka. Pada masing-masing langkah sains, mereka harus menginterpretasikan pengetahuan baru mereka dalam konteks apa-apa yang telah mereka pahami. Dibandingkan mentransferkan pengetahuan lengkap ke pikiran murid, akan lebih baik jika guru membantu murid mengkonstruksi interpretasi yang valid secara ilmiah tentang dunia dan membimbing mereka mengubah miskonsepsi ilmiah mereka.[7]

Hal tersebut penting mengingat seperti dalam keterangan Santrock bahwa anak punya banyak miskonsepsi yang tidak kompatibel (selaras) dengan sains dan realitas. [8] Tippins, Kobalia, dan Payne menyarankan bahwa guru yang baik harus memahami konsep anak tersebut, kemudian menggunakan konsep tersebut sebagai dasar pijakan bagi pembelajaran. [9] Pengajaran sains yang efektif haruslah mampu membantu murid untuk membedakan antara kesalahan yang berguna dan miskonsepsi, antara kesalahan yang berada di jalur yang benar dengan pemahaman yang tidak lengkap, dan ide yang benar-benar keliru yang perlu diganti dengan konsep yang benar-benar akurat.

Kemudian, untuk menumbuhkan minat belajar murid terhadap sains, berdasarkan perspektif kognitif, langkah yang dianjurkan yaitu dengan memberikan motivasi intrinsik daripada motivasi ekstrinsik kepada murid. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). [10] Ada dua jenis motivasi intrinsik, yaitu: pertama, motivasi intrinsik dari determinasi diri dan pilihan personal; dan kedua, motivasi intrinsik dari pengalaman optimal. [11] Dalam kajian lebih lanjut terungkap, motivasi intrinsik memiliki arti penting bagai seorang anak dalam berprestasi atau untuk meraih sesuatu. Sebagai contoh tentang motivasi intrinsik: murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang dengan mata pelajaran yang diujikan tersebut.

Pandangan di atas juga dikuatkan oleh hasil studi yang mengungkapkan bahwa telah ditemukan bukti terbaru mendukung pembentukan iklim kelas di mana murid bisa termotivasi secara intrinsik untuk belajar.[12] Murid mendapatkan motivasi untuk belajar saat mereka diberi pilihan, senang menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka, dan mendapat imbalan yang mengandung nilai informasional tetapi bukan dipakai untuk kontrol. Pemberian pujian juga termasuk di dalamnya.

Jadi dapat dipahami bahwa mengajar menurut konstruktivisme adalah proses membantu seseorang (murid) untuk membentuk pengetahuannya sendiri. [13] Mengajar bukanlah mentransfer pengetahuan dari orang yang sudah tahu (guru) kepada yang belum tahu (murid), melainkan membantu seseorang agar dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat kegiatannya terhadap fenomen dan objek yang ingin diketahui. Dalam hal ini, penyediaan prasarana dan situasi yang memungkinkan dialog secara kritis perlu dikembangkan. Sementara itu, tugas guru dalam proses ini lebih menjadi mitra yang aktif bertanya, merangsang pemikiran, menciptakan persoalan, membiarkan murid mengungkapkan gagasan dan konsepnya, serta kritis menguji konsep murid. Namun, yang paling penting adalah menghargai dan menerima pemikiran murid apa pun adanya sambil menunjukkan apakah pemikiran itu jalan atau tidak. Guru juga harus menguasai bahan secara luas dan mendalam sehingga dapat lebih fleksibel menerima gagasan murid mereka.
Namun, berbagai sisi positif pengajaran konstruktivis sayangnya masih tidak lengkap untuk dijadikan model pengajaran sains di RA. Ini mengingat bahwa falsafah pendidikan yang digunakannya tidaklah lengkap seperti yang kita saksikan, karena sistem tersebut meninggalkan satu aspek kepribadian manusia, yaitu spiritnya.[14] Selain itu, model pengajaran sains konstruktivis didominasi oleh pendekatan ilmiah. Padahal, pendekatan ilmiah ketika digunakan sebagai satu-satunya metode yang berlaku pada semua cabang pengetahuan adalah tidak seluruhnya valid dan rasional. [15] Dengan demikian, dalam model pengajaran ini ditemukan adanya falsafah yang kekurangan realitas spiritual dan kebutuhan penggunaan spiritual dan karena itu kekurangan pula akan aspek transendental manusia dan sifat eksternal.
________________________________________
[1] Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010), Cet. VIII, hlm. 28-29.
[2] Jacqueline G. Brooks dan Martin G. Brooks, In Search …, hlm. vii
[3] Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme …, hlm. 29.
[4] Alfred E. Friedl, Teaching Science To Children An Integrated Approach Second Edition (New York: McGraw-Hill, Inc., 1991), hlm. 4
[5] Jacqueline G. Brooks dan Martin G. Brooks, In Search of Understanding: The Case for Constructivist Classrooms (Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD), 1993), hlm. vii
[6] Chiapetta dan Koballa (2002) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, terj. Tri Wibowo B.S. (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 447.
[7] Martin, Sexton dan Geriovich (1999) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, terj. Tri Wibowo B.S. (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 447.
[8] John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, …, hlm. 446.
[9] D.J. Tippins, T.R. Konalla, dan B.D. Payne (2000) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, …, hlm. 446.
[10] Wigfield dan Eccles (2002) dan Hennesey dan Amabile (1998) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, …, hlm. 513.
[11] Mihaly Csikszentmihalyi (1990, 1993, 2000) dan bersama Nakamura (2002) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, …, hlm. 516.
[12] Wigfield dan Eccles (2002) dan Hennesey dan Amabile (1998) dalam John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, …, hlm. 513.

Lanjutkan ... → Model Pengajaran (Sains) Konstruktivis
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading