Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada bapak/ibu guru, silahkan kirim artikel pendidikan atau hasil penelitian yang telah di lakukan untuk dimuat di blog ini

Blogroll

RelmaxTop. Free powerful counter for your website
Tampilkan postingan dengan label Bahan Kajian PTK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahan Kajian PTK. Tampilkan semua postingan

Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Pembelajaran Berbasis E-Learning

Berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi memberi dampak terhadap berbagai sendi kehidupan, termasuk terhadap dunia pendidikan memberi pengaruh yang luar biasa.. Berbagai model pembelajaran dengan memanfaatkan komputer seperti: e-learning (electronic learning) Computer Assisted Instruction (CAI), Computer Based Instruction (CBI), dan e-teaching (electronic teaching).

Model pembelajaran tersebut memungkinkan dosen dan mahasiswa mencari bahan pembelajaran sendiri langsung dari situs di internet melalui komputer sebagai sumber belajar. Dengan memahami cara menggunakan komputer dosen dan mahasiswa dapat mengakses bahan pembelajaran melalui jaringan intra dan internet, dan melalui CD dapat mempelajari bahan pembelajaran secara interaktif dan menarik, tanpa harus didampingi oleh seorang dosen secara langsung.

Perkembangan teknologi internet memberikan nuansa sistem belajar jarak jauh yang lebih terbuka lagi. Sistem pembelajaran berbasis web yang populer dengan sebutan electronic learning (e-learning), web-based training (WBT) atau kadang disebut web-based education (WBE), kampus maya (Virtual Campus), m-learning (mobile learning), dan lain-lain. Keunggulan belajar jarak jauh yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah akses ke sumber belajar semakin terbuka dan luas, cepat dan tidak terbatas pada ruang dan waktu. Kegiatan pembelajaran dapat dengan mudah dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, kapan saja dan di mana saja dengan rasa nyaman dan menyenangkan. Batasan ruang, waktu dan jarak tidak lagi menjadi masalah rumit untuk dipecahkan. Melalui teknologi e-learning dosen dan mahasiswa bisa melakukan konferensi, diskusi, konsultasi secara elektronik (electronic conference) tanpa harus bertemu disuatu tempat.

Ada beberapa keunggulan pengembangan program pembelajaran melalui e-learning, yaitu :
1. Sangat dinamis, program pembelajaran e-learning dapat disajikan dalam berbagai format sajian yang menarik, atraktif dan interaktif.
2. Dioperasikan sepanjang waktu sehingga dosen dan mahasiswa dapat memperoleh informasi materi/bahan pembelajaran yang diperlukan disaat memerlukannya.
3. Belajar secara individual, setiap mahasiswa dapat memilih format atau model pembelajaran yang diinginkan dan yang lebih relevan dengan latar belakangnya setiap saat.
4. Bersifat komprehensip, menyediakan berbagai bentuk kegiatan pembelajaran dari berbagai sumber yang memungkinkan mahasiswa untuk memilih suatu format atau metode belajar dan latihan yang disediakan.

Dengan beberapa keunggulan di atas, pengembangan layanan pembelajaran berbasis e-learning untuk MKDP Kurikulum dan Pembelajaran di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diharapkan akan dapat meningkatkan akses pemerataan dan meningkatkan mutu kinerja pembelajaran yang pada akhirnya dapat mempercepat masa studi mahasiswa dan dapat meningkatkan mutu lulusannya.
Di samping itu, ilmu dan teknologi berkembang sangat pesat, hal ini membawa implikasi terhadap penambahan bahan ajar yang harus disampaikan dosen kepada mahasiswa. Semantara itu waktu yang tersedia bagi dosen dan mahasiswa untuk bertatap muka di ruang kelas sangat terbatas. Hal ini mendorong perlu dikembangkan sistem pembelajaran yang dapat melayani mahasiswa dalam jumlah banyak, waktu yang diperlukan relatif sedikit, proses pembelajaran yang fleksibel, namun bahan ajar dapat diserap cukup efektif.

Mencermati perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya teknologi sistem pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi internet dengan pembelajaran berbasis e-learning-nya, dapat membantu memperpanjang waktu belajar mahasiswa meskipun tanpa harus didampingi oleh dosen secara fisik. Teknologi internet dapat menjadi terobosan yang efektif untuk mengatasi masalah hubungan antara dosen dan mahasiswa dalam mengolah informasi bahan perkuliahan. Program sajian bahan perkuliahan yang menarik, interaktif dan konstruktif dapat mendorong motivasi belajar yang kuat pada mahasiswa, sehingga mereka dapat memmahasiswainya kapan dan dimana saja.

Salah satu kebijakan dan program yang ditetapkan dalan rencana stategis (Renstra) Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2005-2010 adalah mengembangkan sistem belajar jarak jauh dengan memanfaatakan jaringan ICT yang infrastrukturnya telah dibangun di lingkungan kampus. UPI mentargetkan sebanyak 10 program studi yang memanfatkan jaringan ICT untuk menyelenggarakan perkuliahan dengan sistem e-learning.
Jaringan internet yang sudah dibangun di lingkungan kampus UPI baru merupakan infra struktur untuk pembelajaran berbasis e-learning, dan itu tidak akan berarti apa-apa tanpa disiapkan sumberdaya manusianya, baik sebagai pengembang bahan ajarnya, sebagai penyelenggara, maupun tenaga untuk riset dan pengembangannya.

Pembelajaran melalui e-learning menuntut dosen dan mahasiswa memiliki potensi Attitude, Creativity, Knowledge, dan Skill (ACKS). Agar dapat memanfaatkan teknologi internet dalam pembelajaran, dosen dan mahasiswa dituntut untuk memiliki sikap positif terhadap teknologi tersebut, memiliki kreativitas yang tinggi, memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknologi informasi, dan memiliki keterampilan dalam menggunakan komputer dan alat teknologi informasi lainnya. Sekaitan dengan hal ini maka untuk menunjang pelaksanaan program pembelajaran berbasis e-learning ini perlu disiapkan sumber daya manusianya melalui program pelatihan e-learning.
Untuk menjamin kelancaran dan kesinambungan pelaksanaan program pembelajaran berbasis e-learning ini perlu dibangun sistem pelayanan operasional yang baik, sistem evaluasi dan monitoring serta riset dan pengembangan program yang kotinu. Untuk itu, perlu dibentuk suatu tim pengembang yang solid dan terkoordinasi yang terdiri dari pakar teknologi internet, pakar teknologi pendidikan dan pakar ICT.

Lanjutkan ... → Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Pembelajaran Berbasis E-Learning

Bidang Kajian dan Karakteristik PTK (2)

McNiff (1992: 1) dalam bukunya yang berjudul Action Research: Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya. Dalam PTK guru dapat meneliti sendiri terhadap praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. Dengan melakukan penelitian tindakan, guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif.

A. Bidang Kajian PTK
Bidang kajian penelitian PTK adalah sebagai berikut.
1) Masalah belajar siswa sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: masalah belajar di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi, dan sebagainya);
2) Desain dan strategi pembelajaran di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, dan sebagainya);
3) Alat bantu, media, dan sumber belajar (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas, dan sebagainya);
4) Sistem evaluasi (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi, dan sebagainya);
5) Masalah kurikulum (termasuk dalam tema ini, antara lain: masalah implementasi KBK, interaksi guru-siswa, siswa-bahan abelajar, dan lingkungan pembelajaran, dan sebagainya.
6) Masalah manajemen kelas atau sekolah.

B. Karakteristik PTK
Priyono memberikan enam karakteristik penelitian tindakan kelas sebagai berikut.
1. On-the job problem-oriented (masalah yang diteliti adalah masalah yang riil yang muncul dari dunia kerja peneliti/ yang ada dalam kewenangan/ tanggung jawab peneliti).
2. Problem-solving oriented (berorientasi pada pemecahan masalah).
3. Improvement-oriented (berorientasi pada peningkatan kualitas).
4. Multiple data collection (berbagai cara koleksi data dipergunakan). Untuk memenuhi prinsip ‘critical approach’ (kebenaran itu subjektif/ problematik), berbagai cara pengumpulan data umumnya digunakan, seperti (1) observasi, (2) tes, (3) wawancara, dan (4) kuesioner.
5. Cyclic (siklis), konsep tindakan pada dasarnya diterapkan melalui urutan-urutan planning, observing, action, and reflecting.
6. Partisipatory/collaborative. Peneliti bekerja sama dengan orang lain (ahli) dalam melakukan setiap langkah.

Suyanto mengemukakan karakteristik PTK secara lebih sederhana, yaitu sebagai berikut.
Pertama, permasalahannya diangkat dari dalam kelas tempat guru mengajar yang benar-¬benar dihayati oleh guru sebagai masalah yang harus diatasi. Masalah tidak berasal dari luar atau disarankan oleh orang lain yang tidak tahu-menahu masalah yang terjadi di dalam kelas. Masalah juga bukan berasal dari hasil penelitian atau hasil kajian lain yang di luar penghayatan guru.
Kedua, PTK adalah penelitian yang bersifat kolaboratif. Guru tidak harus sendirian berupaya memperbaiki praksis pembelajarannya. Ia dapat dibantu oleh pakar pendidikan, dosen LPTK, atau kepala sekolah, pengawas, atau bahkan oleh guru lain.
Ketiga, PTK adalah jenis penelitian yang memunculkan adanya tindakan tertentu untuk memperbaiki proses belajar mengajar di kelas.

Lanjutkan ... → Bidang Kajian dan Karakteristik PTK (2)

Bagaimana Cara Melakukan PTK (1)

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) idealnya harus dilakukan oleh guru demi perbaikan pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. PTK menjadi sangat penting bagi peningkatan mutu pendidikan.

Hakikat PTK
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia berada pada peringkat terakhir dari 12 negara atau berada di bawah Vietnam yang menempati peringkat ke-11. Sehubungan dengan kondisi tersebut, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah kecuali melakukan berbagai pembaharuan dan penyempurnaan sistem pendidikan secara menyeluruh agar bangsa ini dapat bersaing di era global yang semakin kompetitif.

Salah satu pendekatan pemecahan berbagai masalah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan adalah pemanfaatan penelitian pendidikan. Namun, kita semua tahu bahwa dampak hasil penelitian pendidikan itu dalam bentuk peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dirasakan masih sangat kurang. Penyebabnya adalah (1) penelitian pendidikan itu dilakukan oleh pakar atau peneliti dari luar dan (2) penyebarluasan hasil penelitian ke kalangan praktisi pendidikan memakan waktu yang sangat panjang. Karena itu, penelitian yang dilakukan oleh pihak dalam dan langsung dapat diterapkan hasilnya—wujudnya antara lain penelitian tindakan (kelas)—sangat dibutuhkan.

Penelitian tindakan adalah penelitian partisipatori kolaboratif yang berawal dari klarifikasi beberapa masalah yang menarik perhatian dan dirasakan bersama oleh suatu kelompok. Istilah ini merupakan terjemahan dari action research yang dipakai kali pertama oleh Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan istilah tersebut untuk menyebut suatu kegiatan yang terdiri atas tiga langkah, yaitu perencanaan (planning), tindakan (action), dan evaluasi (evaluation). Salah satu bentuk penelitian tindakan adalah Penelitian Tindakan Kelas.

Dalam penerapannya ada beberapa bidang yang dapat ditingkatkan atau diperbaiki melalui PTK. Pertama, masalah belajar siswa. Yang termasuk dalam masalah ini antara lain masalah kesulitan belajar siswa, kemampuan siswa, motivasi siswa, dan model belajar siswa. Kedua, masalah desain dan strategi pembelajaran di kelas. Yang termasuk dalam masalah ini antara lain masalah pengelolaan dan prosedur pembelajaran, implementasi dan inovasi metode pembelajaran, dan interaksi di dalam kelas. Ketiga, masalah alat bantu, media, dan sumber belajar. Yang termasuk dalam masalah ini antara lain masalah penggunaan media, perpustakaan, dan sumber belajar di dalam/luar kelas. Keempat, masalah sistem evaluasi. Yang termasuk dalam masalah ini antara lain masalah evaluasi awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi. Kelima, masalah kurikulum. Yang termasuk dalam masalah ini antara lain masalah implementasi KTSP, interaksi guru-siswa, siswa-bahan belajar, dan lingkungan pembelajaran. Keenam, masalah manajemen kelas atau sekolah. Untuk manajemen sekolah, orang biasa menyebutnya dengan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS).

Langkah Langkah Melakukan PTK
Memilih Topik
Topik Penelitian Tindakan Kelas haruslah berangkat dari kondisi yang ada di lapangan, dalam hal ini sekolah, dan benar-benar dirasakan oleh guru dan siswa. Secara umum kriteria karya ilmiah adalah asli, perlu, ilmiah, dan konsisten. Asli artinya buatan sendiri, tidak dibuatkan oleh orang lain, dan tidak merupakan reproduksi dari karya ilmiah lain, seperti skripsi atau tesis. Perlu artinya masalah yang diangkat atau topik yang dipilih memang benar-benar perlu diteliti, tidak mengada-ada, dan tidak biasa dilakukan oleh guru dalam proses belajar-mengajar sehari-hari. Ilmiah artinya didukung oleh sumber-sumber dan data yang terpercaya, serta ditulis dengan sistematika dan tata tulis yang sesuai dengan kaidah. Konsisten artinya sejalan dengan bidang yang digeluti sehari-hari oleh peneliti. Misalnya, seorang guru SD meneliti di SMP; itu artinya tidak konsisten. demikian juga jika ada Guru Bahasa Indonesia melakukan penelitian dalam bidang Matematika, misalnya.
Selain kriteria yang bersifat umum tersebut, dalam memilih topik juga harus diperhatikan syarat-syarat yang lain, yaitu harus spesifik. Artinya, topik yang diangkat dalam PTK tidak boleh terlalu luas. Dalam bidang studi, kita dapat memilih satu kompetensi dasar atau setidaknya satu standar kompetensi. Hampir tidak mungkin jika kita mengambil lingkup satu mata pelajaran. Kecuali untuk topik yang berkaitan dengan minat, motivasi, atau sejenisnya, kita dapat menggunakan lingkup yang lebih luas.

Membuat Judul
Kali pertama orang membaca proposal PTK tentu pada judulnya. Itu artinya keberadaan judul menjadi amat penting karena dari sanalah nasib bagian-bagian sesudahnya akan bergantung. Jika judul yang kita tulis sudah salah atau tidak menarik, dapat dipastikan orang tidak akan melanjutkan membaca laporan penelitian yang kita buat.
Hal pertama yang harus kita perhatikan dalam membuat judul karya ilmiah, termasuk di dalamnya penelitian tindakan kelas adalah syarat-syarat judul yang baik. Secara umum judul karya ilmiah harus mencerminkan isi, berupa pernyataan (bukan pertanyaan atau kalimat), dan jelas (tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek). Khusus untuk PTK judul harus memperlihatkan tindakan yang harus dilakukan. Judul yang dimulai dengan kata pengaruh, perbandingan, kelebihan, dan semacamnya jelas-jelas tidak menunjukkan adanya tindakan. Namun, judul yang dimulai dengan kata peningkatan, optimalisasi, pengefektifan, dan semacamnya sudah mengindikasikan adanya tindakan.

Menyusun Proposal
Pada umumnya usulan PTK itu terdiri atas dua bagian penting, yakni bagian awal dan bagian isi usulan PTK.
Bagian awal usulan PTK itu berisi halaman judul luar dan halaman pengesahan. Halaman judul luar berisi judul PTK yang diusulkan, nama peneliti, dan lembaga tempat peneliti bekerja. Bagian pengesahan berisi judul PTK; bidang ilmu; dan kategori penelitian, tim peneliti, lokasi penelitian, biaya penelitian, dan sumber dana penelitian.

Bagian isi proposal penelitian tindakan kelas meliputi aspek-aspek (1) Judul Penelitian, (2) Bidang Ilmu, (3) Latar Belakang Masalah, (4) Identifikasi Masalah, (5) Pembatasan Masalah, (6) Rumusan Masalah, (7) Tujuan Penelitian, (8) Manfaat Penelitian, (9) Landasan Teoretis dan Hipotesis Tindakan, (10) Metodologi Penelitian, (11) Jadwal Pelaksanaan, (12) Personalia, (13) Biaya, dan (14) Lampiran.
Aspek-aspek yang ada dalam proposal ini nantinya dapat digunakan sebagai laporan PTK. Biasanya, kecuali judul, aspek 3-10, atau mulai latar beklakang masalah sampai metodologi penelitian digunakan sebagai bahan Bab I, Bab II, dan Bab II dalam laporan PTK. Uraian masing-masing aspek tersebut diutraikan pada bagian laporan PTK. Selain itu, proposal ini hanya dibuat jika PTK yang akan ditempuh merupakan PTK hibah. Namun, jika penelitian bersifat mandiri, dalam pengertian tidak membutuhkan usulan dana ke instansi tertentu, proposal formal tersebut tidak diperlukan. Yang diperlukan hanyalah proposal sederhana atau pokok-pokok rencana penelitian saja.

Mengumpulkan dan Menganalisis Data
Cara mengambil data biasanya menggunakan dua teknik, yaitu teknik tes dan teknik nontes. Teknik nontes yang biasa digunakan adalah bservasi, wawancara, jurnal, dan dokumentasi. Jika kita menggunnakan teknik tes dalam mengumpulkan data, perlu dicermati pembuatan soal tesnya. Soal tes yang kita susun haruslah mampu mengukur kompetensi yang diinginkan. Karena itu, jenis tes yang kita gunakan pun harus sesuai dengan karakter kompetensi yang akan kita teliti. Jika kita akan meneliti kemampuan berbicara anak, misalnya, tentu harus menggunakan tes perbuatan. Tidak mungkin kita menggunakan tes tertulis untuk mendapatkan data kemampuan berbicara siswa. Demikian juga jika kita menggunakan teknik nontes. Kita harus bisa memilih bentuk teknik yang memang benar-benar dapat mengukur kompetensi anak.

Hal yang perlu kita perhatikan dalam pengumpulan data adalah instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data selalu berkaitan dengan instrumen penelitian. Dalam proposal PTK orang sering mencampuradukkan keduanya. Yang benar, teknik mengumpulan data merupakan cara untuk mendapatkan data. Dalam rangka mendapatkan data tersebut dibutuhkan alat yang kita sebut instrumen penelitian. Jika kita menggunakan teknik tes, misalnya, instrumen yang kita butuhkan adalah soal tes beserta kisi-kisinya. Jika kita memilih observasi sebagai teknik untuk mengupulkan data, instrumen yang kita butuhkan adalah lembar observasi. Begitu seterusnya, masing-masing teknik membutuhkan instrumen yang sesuai.

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah analisis data. Melalui analisis data peneliti akan mengetahui hubungan masing-masing hasil penelitian, mulai dari prasiklus sampai dengan siklus terakhir, dengan masing-masing rinciannya. Hasil analisis inilah yang merupakan bahan penyusunan laporan penelitian.

Melaporkan Hasil Penelitian
Melaporkan hasil penelitian tidak sebatas kita menguraikan temuan kita dalam laporan penelitian. Ada subbab lain yang amat penting kedudukannya kaitannya dengan pelaporan, yaitu pembahasan. Jika dalam bagian hasil penelitian kita hanya menguraikan temuan pada masing-masing siklus, jika perlu pada masing-masing teknik yang digunakan, juga instrumennya; pada bagian pembahasan kita harus mengaitkan temuan yang satu dan yang lain, bahkan juga mengaitkan antara temuan dan teori yang digunakan. Bagian ini merupakan bagian terpenting dalam laporan PTK, karena itu jika dilihat dari jumlah halamannya, bagian ini memiliki porsi yang paling banyak.

Lanjutkan ... → Bagaimana Cara Melakukan PTK (1)
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading