Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada bapak/ibu guru, silahkan kirim artikel pendidikan atau hasil penelitian yang telah di lakukan untuk dimuat di blog ini

Blogroll

RelmaxTop. Free powerful counter for your website
Tampilkan postingan dengan label Multimedia Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Multimedia Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Macam-Macam Media Pembelajaran

Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

Media pembelajaran sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil penelitian para ahli, ternyata media yang beraneka ragam itu hampir semua bermanfaat.


Adapun macam-macam pembelajaran adalah : a) Media visual, b) Media audio, c) media proyeksi diam, d). Media audio visual, e) Media cetakan Sadiman (1986). Bertitik tolak pada pembagian macam-macam media pengajaran diatas., maka penulis meneliti 2 (dua) macam media pembelajaran yang sesuai dan tersedia di daerah penelitian. Adapun media pembelajaran tersebut:

1. Media visual
Media visual termasuk media grtafis, yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dan sumber ke penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Pengertian media visual adalah :“gambar yang secara keseluruhan dari sesuatu yang dijelaskan ke dalam suatu bentuk yang dapat divisualisasikan (Suparto, 1982). Dari macam-macam media visual tersebut diatas, ada tiga macam media visual yang sesuai dengan kegiatan mata pelajaran sejarah yaitu :

a. Gambar/Foto
Gambar / foto merupakan media yang paling umum dipakai. Gambar merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana-mana.

b. Bagan/Chart
Bagan chart termasuk media grafik dan bagan merupakan suatu penyajian diagramatik. Dimana bagan dapat diartikan sebagai suatu lambang visual (visual syabel) untuk mengikhtiarkan, membandingkan dan mempertentangkan kenyataan atau kenyataan-kenyataan (Soeparto, 1983).

c. Peta dan Globe
Globe merupakan lukisan dari permukaan bumi yang diperkecil, sehingga menyerupai dari bentuk aslinya. Pada dasarnya peta dan globe berfungsi untuk menyajikan data-data dan lokasi (Sadiman, 1986)

2. Media Cetak
Media cetak pada kenyataan meliputi bahan bacaan di Indonesia. Bahan bacaan masih sedikit jumlahnya bila dilihat dari kebutuhan. Lagipula kecendrungan dan rangsangan untuk membacapun masih kurang. Padahal kegiatan membaca merupakan suatu yang cukup penting artinya bagi kita/siswa. Dengan membaca secara teratur kita/siswa dapat menyerap gagasan, teori, analisis atau penemuan orang lain. Dan lewat kegiatan pembaca pula orang dapat mengikuti setiap perkembangan baru yang terjadi. Selain meliputi bahan bacaan, media cetakan menampilkan simbol-simbol tertentu. Media cetak pada dasarnya hanya menampilkan simbol-simbol tertentu yaitu huruf (simbol bunyi) (Ali, 1984). Dari macam-macam media cetakan tersebut di atas, penulis mengambil 3 (tiga) macam antara lain :

a. Buku
Buku adalah merupakan sarana yang penting bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Karena pada hakekatnya penggunaan media buku dalam proses belajar mengajar adalah bertujuan untuk mempermudah siswa belajar (Purwodarminto, 1986).

b. Majalah
Membaca majalah berarti mempelajari hasil karya tulis para ahli menurut bidangnya. Membaca majalah adalah merupakan suatu cara atau sesuatu sarana untuk memelihara tingkat pengetahuan sendiri serta untuk menambah pengetahuan baru. Majalah merupakan sarana untuk menggugah minat siswa terhadap suatu masalah pada masa lampau atau masa sekarang. Majalah ini memuat aneka peristiwa baik tentang pengembangan di bidang pendidikan, juga memuat tentang artikel-artikel mengenai peristiwa sejarah pada masal lampau. Hal ini merupakan bahan penunjang bagi siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

c. Surat kabar atau koran
Sedangkan surat kabar juga merupakan sarana penunjang mata pelajaran sejarah, karena surat kabar merupakan suatu cara untuk menambah pengetahuan baru bagi siswa.

Sejalan dengan perkembangan IPTEK penggunaan media, baik yang bersifat audio, visual, maupun audi-visual, bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja yang disebut Multi Media. Contoh : dewasa ini penggunaan komputer tidak hanya bersifat projected motion media, namun dapat meramu semua jenis media yang bersifat interaktif.
Lanjutkan ... → Macam-Macam Media Pembelajaran

Pengembangan Multimedia Pembelajaran

Pengembangan multimedia merupakan proses atau cara untuk menghasilkan produksi bahan, piranti, sistem, metode, termasuk proses perancangan prototipe-prototipe media elektronik interaktif yang memuat material pembelajaran. Tanpa teknologi pembelajaran, mutu pembelajaran sulit ditingkatkan (Anik Ghufron, 2004:4).

Dinyatakan pula bahwa aspek-aspek yang menjadi kajian teknologi pembelajaran bukan saja membahas dimensi pemanfaatan media pembelajaran saja, tetapi juga meliputi desain, pengembangan, pengelolaan, pemanfaatan, dan evaluasi proses dan sumber pembelajaran untuk keperluan pembelajaran. Seels dan Richey dalam Anik Ghufron (2004: 3), kawasan teknologi pembelajaran meliputi pengembangan, desain, evaluasi, pemanfaatan, dan pengelolaan.
Anik Ghufron (2004: 4) mengutarakan bahwa eksistensi teknologi pembelajaran tidak bisa dilepasakan dari proses pembelajaran. Dinyatakan pula bahwa banyak elemen pembentuk kegiatan pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam mengaplikasikan teknologi pembelajaran. Elemen tersebut antara lain (1) jenis materi pembelajaran, (2) sifat atau karakteristik pebelajar, (3) organisasi pembelajaran, (4) ketersediaan sarana, dan (5) kemampuan praktisi.
Anik Ghufron (2004: 4) mengutarakan pula bahwa salah satu cara agar diperoleh kemudahan dalam menentukan domain teknologi pembelajaran perlu diawali dengan pemetaan aspek-aspek dan kegiatan pembelajaran. Domain pengembangan tidak bisa lepas dari desain, pemakaian, evaluasi dan pengelolaan. Dalam menentukan penggunaan multimedia pembelajaran perlu dipikirkan dengan baik. Multimedia pembelajaran yang baik diperlukan langkah-langkah perancangan dan pengembangan multimedia pembelajaran yang baik pula. Perlu pemahaman bahwa informasi bahan ajar yang terkemas dalam Compact Disk (CD) berupa multimedia interaktif yang berfungsi membantu membelajarkan peserta didik secara sistematis, terarah sesuai tujuan, yaitu kompetensi yang telah ditetapkan.
Bahan ajar berupa multimedia interaktif hasil penelitian ini dilengkapi dengan soal tes (test). Multimedia interaktif yang dikembangkan ini adalah berisi bahan ajar yang dihasilkan oleh peneliti yang bekerja dengan baik, menerapkan prinsip-prinsip pengembangan dengan mengadaptasikan model desain pembelajaran Dick dan Carey (2001: 36-37). Dalam hal ini peneliti juga melakukan penelitian/kajian tentang multimedia tersebut dengan baik, maksudnya dibuatkan ilustrasi dan didesain dengan baik, melalui uji coba, diedit dengan baik (well-researched, well- tested, well-edited, well-illustrated, and well designed), dengan melibatkan tenaga-tenaga yang kompeten dalam suatu tim. (Purwanto dan Ida Malati Sadjati, 2003: 3).
Pelaksanaan Penelitian Pengembangan, karena sifatnya yang berorientasi pada pengembangan produk pendidikan atau produk pembelajaran, maka pelaksanaan penelitian dapat dilakukan secara bertahap (Waldopo, 2002: 41). Lebih lanjut menyatakan ”Dalam melaksanakan penelitian tentunya peneliti tidak dapat melaksanakannya sendirian, melainkan harus melibatkan berbagai pakar sesuai dengan jenis produk yang akan dikembangkan”. Wasis D. (2004: 5) menyatakan bahwa konsep penelitian pengembangan lebih tepat diartikan sebagai upaya pengembangan yang sekaligus disertai dengan upaya validasi.
Borg & Gall (2003: 569) menyatakan bahwa evaluasi memegang kunci dalam penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan produk-produk yang berbasis pengembangan yang mempergunakan penemuan-penemuan penelitian dalam mendesain produk dan prosedur baru. Yang kemudian dilakukan uji lapangan secara sistematik, dievaluasi dan diperbaiki sampai ditemukan kriteria kualitas atau standar tertentu. Penelitian dan pengembangan dapat digunakan dalam pendidikan. Wasis D. (2004: 4) menyatakan bahwa penelitian pengembangan adalah pemakaian secara sistematik pengetahuan ilmiah yang diarahkan pada produksi bahan, piranti, system, metode, termasuk proses perancangan prototipe-prototipe.
Borg dan Gall (2003: 570) mengutarakan bahwa salah satu pengunaan model research dan Development dalam pendidikan adalah pada model sistem pendekatan yang didesain Walter Dick dan Lou Carey. Dick dan Carey (Borg dan Gall, 2003: 572) menganjurkan tiga tingkatan proses evaluasi formatif: (1) mencobakan prototipe material secara one to one, (2) uji coba small group, (3) uji coba lapangan (field trial). Lima tahapan generik pengembangan sistem pembelajaran yang diajukan Purwanto dan Ida Malati Sedjati (2003:3) yang disebut ADDIE model dalam perancanan dan pengembanan bahan ajar adalah sebagai berikut: (1) analisis, (2) perancangan, (3) pengembangan dan produksi, (4) imlementasi, (5) evaluasi.
Sugiono (2006: 414) menyatakan bahwa uji coba produk dilakukan setelah desain produk divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli lainnya, dari uji coba dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan yang ditemukan selanjutnya dipergunakan oleh peneliti untuk perbaikan produk. Pada uji coba pemakaian sasaran yang dinilai adalah kekurangan atau hambatan yang muncul untuk perbaikan lebih lanjut (Sugiono, 2006: 426). Arief S. Sadiman (2003: 182) menyatakan ada dua macam bentuk pengujicobaan media yang dikenal yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Kegiatan evaluasi dalam program pengembangan media pendidikan dititikberatkan pada kegiatan evaluasi formatif. Ada tiga tahap evaluasi formatif yaitu satu lawan satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), evaluasi lapangan (field evaluation).

Lanjutkan ... → Pengembangan Multimedia Pembelajaran

Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk beradaptasi. Begitu pula dengan pembelajaran IPA Terpadu.

Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat dilaksanakan.

1. Guru
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah. Bila di suatu sekolah guru IPA terdiri atas guru fisika, kimia, biologi, maka dalam penyusunan silabus, perencanaan pembelajaran, penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP agar dapat terjadi diskusi tentang perencanaan strategi dan pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu diajarkan dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu terbentur pada masalah-masalah berikut ini.
1. Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat diubah begitu saja.
2. Masalah guru mata pelajaran IPA yang terpisah.
3. Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan diajarkan.
4. Penguasaan bahan ajar.
5. Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas.

Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersama-sama. Oleh karena itu, pembelajaran IPA terpadu dapat diajarkan oleh guru tunggal atau tim pengajar tergantung pada kesepakatan dan waktu.

Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah kerja sama antar guru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat perencanaan pembelajaran, mulai dari silabus, desain pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA, baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama ini meliputi saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain. Selain meningkatkan kerja sama, pembelajaran terpadu juga meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan pengetahuannya. Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.

2. Peserta didik
Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan, karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan variasi metode yang tidak membosankan. Aktivitas pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.

3. Bahan Ajar
Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.

Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsep-konsep itu dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada berbagai mata pelajaran.

4. Sarana dan Prasarana
Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran. Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.

Lanjutkan ... →
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading