Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada bapak/ibu guru, silahkan kirim artikel pendidikan atau hasil penelitian yang telah di lakukan untuk dimuat di blog ini

Blogroll

RelmaxTop. Free powerful counter for your website
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi

Macam Macam Kecerdasan Anak Dan Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi - Manusia memiliki kecerdasan intelektual dan tidak di miliki oleh mahkluk lainnya yang ada di bumi. Apa sih sebetulnya kecerdasan itu? Kata kecerdasan merupakan istilah umum yang sering dipakai untuk menjelaskan tentang sifat pikiran yang di dalamnya mencakup kemampuan seseorang misalnya saja kemampuan berfikir, merencanakan, memecahkan suatu masalah, memahami sebuah ide atau gagasan, memakai bahasa serta belajar.

Kecerdasan sangat erat hubungannya dengan kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita sering mendengar istilah IQ dan untuk menguji tingkat kecerdasan seseorang dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang sering di namakan atau disebut sebagai tes IQ. Baca juga info lain untuk kategori pendidikan , Contoh Proposal Beasiswa Proposal Bantuan Dana Pendidikan , Program Beasiswa Unggulan 2011 Jenjang Study Pendidikan Untuk Calon Mahasiswa Unggulan S1-S3 Tahun 2011 , Proposal Beasiswa Contoh Cara Pembuatan Pengajuan Permohonan Beasiswa

Menurut Howard Gardner, potensi diri di sebut juga kecerdasan. Lebih jauh dinyatakan, setiap orang memiliki kecerdasan majemuk. Penemuan Gardner ini sekaligus membantah pandangan yang selama ini dianut oleh kebanyakan orang bahwa yang bisa berprestasi hanyalah mereka yang memiliki inteligensi akademik (IQ) tinggi.

Menurut Gardner, setidaknya ada delapan kecerdasan dasar. Adapun kedeplapan kecerdasan dasar tersebut meliputi : kecerdasan lingustik, matematis-logis, spasial, kinestetis jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Keterangan ringkasnya adalah sebagai berikut (Pengertian, Komponen inti, Kegiatan budaya, Relevansi dengan kondisi kekinian, Profesi relevan, Contoh Figur)

1. Lingustik.
Kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.
Kepekaan pada bunyi, stuktur, makna, fungsi kata, dan bahasa.
Budaya berbicara, pembacaan cerita, kesusastraan.
Kini komunikasi lisan dan tertulis memainkan peranan amat penting.
Guru, sekertaris, pendongeng, orator, politisi, sastrawan, penulis, editor, wartawan, ilmuwan sosial.
Virginia Wolf, Martin Luther King, Taufiq Ismail, Geonawan Mohamad, Pramudya Ananta Toer.

2. Metematis-Logis
Kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar.
kepekaan pada dan kapasitas mencerna pola-pola logis atau numeris kemampuan mengolah alur pikiran yang panjang.
Penemuan ilmiah, teori metematika, sistem klasifikasi, dan penghitungan.
Semakin penting dengan munculnya komputer.
Insinyur, ahli matematika, akuntan pajak, ahli statistik, ilmuwan, programer komputer, ahli logika, filsuf.
Madame Currie, BlasiePascal, Albert Einstein, Andi Hakim Nasoetion.

3. Spasial
Kemampuan mempersepsi dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasikannya.
Kepekaan mempersepsi (merasakan) dunia spasial-visual secara akurat dan mentransformasi persepsi awal.
Karya-karya seni, Sistem navigasi, desain arsitektur, karya cipta.
Semakin pentinga dengan munculnya video dan teknologi visual lainnya.
Pemburu, pramuka, pemandu, dekorator interior, arsitek, seniman, ahli tata kota.

4. Kinestetis Jasmani
Kemampuan menggunakan seluruh tubuhnya.
Keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.
Kerajinan tangan, kemampuan atletik, karya-karya drama, tarian , seni pahat.
Berperan penting selama periode agraris.
Pilot, Aktor, pemain pantomim, atlet, penari, perajin, pematung, ahli mekanik, dokter bedah, tukang kayu, montir.
Ben Johnson, Rudi Hartono, Pele

5. Musikal
Kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah dan mengekspresikannya.
Kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama, pola titinada, dan warna nada apresiasi bentuk-bentuk ekspresi musikal.
Komposisi musik, penampilan di panggung, rekaman.
Berperan penting dalam budaya lisan, ketika komunikasi, lebih bersifat musikal.
Penikmat musik, kritikus musik, komposer, penyanyi.
Celin Dion, The Queen, Pavaroti, Beethoven, Adie MS, Erwin Gutawa.

6. Interpersonal
Kemampuan memperseosi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.
Kemampuan mencerna dan meresoins secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan keinginan orang lain.
Dokumen politik, lembaga sosial.
Semakin penting dengan meningkatnya usaha-usaha dalam bidang jasa.
Politisi, Konselor, psikolog, event organizer, pengusaha.
Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, Soekarno, Bill Gates.

7. Intrapersonal.
Kemampuan memahami diri sendiri dan berindak berdasarkan pemahaman tersebut.
Memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi, pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri.
Sistem keagamaan, teori psikologi, ritual hidup sehari-hari.
Terus memiliki peran penting karena perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, yang banyak dihadapkan pada masalah-masalah pengambilan keputusan.
Psikoterapis, Pemimpin keagamaan.
Victor Frankl.

8. Naturalis
Keahlian mengenali dan mengkategorikan spesies flora san fauna di lingkungan sekitar.
Keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies, mengenali eksistensi spesies lain dan memetakan hubungan antara beberapa spesies baik secara informal, maupun formal.
Taksonomi umum, pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan, upacara berburu, mitologi ruh binatang.
Dewasa ini orang-orang yang peduli lingkungan memiliki peran semakin besar untuk melestarikan ekosistem yang terancam punah.
Peneliti alam , ahli biologi, dokter hewan, aktifis lingkungan pakar ekologim petani.
Charles Darwin, Jane Goodal.

Nih ciri-cirinya :

A.Kecerdasan Linguistik
1.Suka membaca buku
2.Menyukai pantun, permainan kata, serangkaian kata yang sukar diucapkan
3.Menulis dengan baik, isi tulisan bagus.
4.Suka bercerita panjang lebar atau menyampaikan lelucon dan kisah-kisah
5.Dapat mengingat nama, tempat, tanggal, atau hal-hal sepele
6.Suka mendengarkan pernyataan-pernyataan lisan (cerita, ulasan radio, dsb.)
7.Suka game permainan kata
8.Mengeja kata dengan tepat
9.Memiliki kosakata sejak kecil
10.Berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang sangat verbal

B.Kecerdasan Matematis-logis
1.Suka permainan catur, main dam, atau game strategi lain
2.Suka mengerjakan teka-teki logika atau soal-soal yang sulit
3.Suka membuat kategori, hierarki, atau pola logis lain
4.Senang melakukan ekperimen selama pelajaran ilmu pasti atau pada waktu luang
5.Banyak bertanya tentang cara kerja suatu hal
6.Suka bekerja atau bermain dengan angka
7.Suka pelajaran matematika, atau pekerjaan yang melibatkan angka
8.Menganggap game matematika dan komputer menarik
9.Menunjukkan minat pada mata pelajaran yang berhubungan dengan sains
10.Dapat mengerjakan tes berpikir logis tipe Piagetian

C.Kecerdasan Spasial
1.Suka melamun
2.Suka kegiatan seni
3.Pandai menggambar
4.Senang melihat film, slide, atau presentasi visual lain
5.Suka mengerjakan puzzle, labirin, atau kegiatan visual sejenis
6.Dapat melaporkan bayangan visual dengan jelas
7.Lebih mudah membaca peta, diagram, dan grafik dari pada teks
8.Dapat membangun konstruksi tiga dimensi yang menarik
9.Lebih mudah belajar dengan gambar dari pada teks
10.Membuat coret-coret di buku kerja, kertas, atau bahan-bahan lain

D.Kecerdasan Kinestetis-Jasmani
1.Selalu bergerak, tidak bisa diam, mengetuk-ngetuk, atau gelisah ketika duduk lama di suatu tempat
2.Menonjol di salah satu atau lebih cabang olahraga
3.Mampu mengekspresikan diri secara dramatis
4.Suka berlari, melompat, gulat, atau kegiatan semacam
5.Menunjukkan kemahiran dalam bidang keterampilan (misalnya pertukangan, menjahit, bengkel) atau memiliki koordinasi motorik halus yang baik dalam hal-hal lain
6.Pandai meniru gerak isyarat atau tingkah laku orang lain
7.Suka membongkar pasang barang
8.Menyentuh (dengan tangan) barang-barang yang baru ditemuinya
9.Menampakkan berbagai macam sensasi fisik ketika berpikir atau bekerja
10.Suka bekerja dengan tanah liat, atau pengalaman yang melibatkan sentuhan tangan lain

E.Kecerdasan Musikal
1.Bersenandung tanpa sadar
2.Mengetuk-ngetuk meja berirama saat sedang bekerja
3.Bersemangat ketika musik dimainkan
4.Menyanyikan lagu yang tidak diajarkan di kelas
5.Dapat menunjukkan nada yang sumbang
6.Dapat mengingat melodi lagu
7.Memiliki suara yang merdu
8.Memainkan alat musik atau bernyanyi bersama paduan suara atau kelompok lain
9.Memiliki cara berbicara dan/atau bergerak yang berirama
10.Peka pada bunyi-bunyian di sekitar

F.Kecerdasan Interpersonal
1.Mudah bergaul
2.Menjadi anggota klub, panitia, atau kelompok informal di antara teman sebaya
3.Mempunyai dua atau lebih teman dekat
4.Memiliki empati yang baik atau perhatian kepada orang lain (sesama)
5.Banyak disukai teman
6. Suka bersosialisasi dengan teman sebaya
7.Senang menjadi pemimpin
8.Memberi saran kepada teman yang mempunyai masalah
9.Senang mengajari anak-anak lain secara informal
10.Suka bermain dengan teman sebaya

G.Kecerdasan Intrapersonal
1.Memiliki perencanaan diri yang baik
2.Lebih memilih bekerja sendiri dari pada bekerjasama dengan orang lain
3.Tidak mengalami masalah jika ditinggalkan bermain atau belajar sendirian
4.Dapat mengekspresikan perasaan secara akurat
5.Menunjukkan sikap mandiri atau kemauan yang keras
6.Memahami dengan baik kekurangan dan kelebihan diri
7.Memiliki gaya hidup dan gaya belajar dengan irama tersendiri
8.Memiliki minat dan hobi yang jarang bicarakan
9.Mampu belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang pernah dialami
10.Memiliki rasa penghargaan terhadap diri sendiri yang baik

H.Kecerdasan Naturalis
1.Senang menyiram dan merawat tanaman di ruang kelas atau rumah
2.Membawa binatang kecil/serangga, bunga atau benda alam lain ke sekolah untuk dipamerkan kepada teman sekelas atau guru
3.Dapat mengerjakan dengan baik tugas/pekerjaan yang bersinggungan dengan sistem kehidupan (misalnya, topik biologi dalam pelajaran ilmu pasti, isu lingkungan dalam pelajaran ilmu sosial)
4.Berbicara banyak tentang binatang kesayangan, atau lokasi-lokasi alam favorit ketika bercerita di kelas
5.Suka karya wisata di alam, ke kebun binatang, atau ke museum purbakala
6.Peka pada bentuk-bentuk alam (misalnya, ketika berjalan-jalan dengan teman sekelas, akan memperhatikan gunung-gunung, awan-awan atau jika dalam lingkungan perkotaan, kemampuannya ditunjukkan dengan kepekaan pada bentuk-bentuk budaya populer, seperti model sepatu karet atau model mobil)
7.Suka bermain di sekitar kandang kelinci, akuarium, atau terarium yang ada di kelas
8.Menunjukkan minat pada ekologi, alam, tanaman, atau binatang
9.Menyerukan hak-hak binatang atau perlunya melindungi planet bumi di kelas
10.Suka melakukan proyek yang berhubungan dengan alam, misalnya mengamati burung, mengumpulkan serangga atau kupu-kupu, mempelajari pohon atau memelihara binatang.
Lanjutkan ... → Kecerdasan Manusia Menurut Ilmu Psikologi

KTSP dan Agenda Pendidikan Teknologi

Ibarat sebuah busur dengan anak panahnya, atau sebuah kepeng dengan sisi-sisinya. Sains dan Teknologi, keduanya saling mengisi, melengkapi satu sama lain. Perkembangan Sains yang pesat, diiringi dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, kemajuan teknologi memberikan wahana yang memungkinkan Sains dapat berkembang dengan pesat pula. Fensham dan Gardner (1994) bahkan mengibaratkan Sains sebagai generator/pembangkit bagi pesatnya teknologi. Sementara itu, teknologi seringkali merupakan bentuk aplikasi dari konsep-konsep yang dipelajari bidang Sains.

Perkembangan Sains dan Teknologi yang massive saat ini tengah menjadi salah satu ciri abad modern. Abad kompetisi, abad dimana persaingan sumber daya manusia (SDM) menjadi sangat ketat. Artinya, siapapun yang memiliki keunggulan insani; spiritual, emosional, intelektual dan skill, maka dapat dipastikan mereka akan menguasai laju sejarah peradaban manusia. Sebaliknya, bila tidak memiliki keunggulan-keunggulan dimaksud, mereka pun hidup hmap tanpa harapan, tanpa tujuan dan tiada arti. Oleh karena itu, upaya alih Sains dan Teknologi saat ini telah menjadi agenda utama yang maha penting bagi semua negara berkembang tak terkecuali negara kita tercinta, Indonesia.
Kebijakan alih Sains dan Teknologi di negara kita, khususnya pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, terintegrasi ke dalam mata pelajaran Sains. Fungsinya sebagaimana tertuang dalam Kurikulum 2006 (KTSP) antara lain: mengembangkan ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah, mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek Sains dan Teknologi, serta menguasai konsep Sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Akankah agenda pendidikan teknologi ini dapat mencapai tujuan? Atau, akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang mengalami pergantian tanpa perbaikan dan evaluasi seiring bergantinya sang menteri?

Merubah Paradigma
Kita semua tahu bahwa pelaksanaan kurikulum 1994 beserta suplemennya, mendapat sorotan dan kritikan tajam dari publik. Dalam konteks pendidikan teknologi misalnya, sangat disayangkan upaya yang dilakukan hanya menyentuh salah satu aspek saja, aykni sains sebagai proses. Prakteknya pun belum sampai pada pembentukan sikap ilmiah para siswa. Sementara sisi Sains sebagai produk, boleh dikata terabaikan. Pengajaran Sains yang dilakukan, belum banyak menyentuh aspek-aspek teknologi. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari para guru dan siswa, dikelilingi dengan produk-produk teknologi. Namun, tak pernah terintegrasi dalam pengajaran di kelas. Akibatnya, meskipun mereka mempelajari konsep listrik, dalam kenyataannya mereka tidak mampu menyambung sekering yang putus.
Persepsi kita terhadap teknologi saat ini, umumnya masih sempit. Teknologi diidentikkan dengan peralatan canggih seperti komputer, proyektor, LCD, pesawat ruang angkasa dan lain-lain. Teknologi dianggap sebagai barang mewah, mahal, susuh dijangkau dan sukar dipelajari. Pandangan seperti ini sah-sah saja, tidak sepenuhnya salah. Namun persepsi ini sedikit banyak mempengaruhi pola pikir pengelola sekolah (masyarakat, kepala, guru dan orang tua siswa), sehingga selalu terjadi tarik-ulur dalam upaya penyediaan produk teknologi seperti komputer.
Harga yang mahal adalah alasan klasik yang selalu mengemuka dan menggagalkan segala upaya. Akibatnya, pendidikan teknologi yang telah diamanatkan kurikulum terabaikan. Sementara, rendahnya pemahaman dan kemampuan teknologi para guru juga turut menyumbang atas kegagalan pelaksanaan pendidikan teknologi di antara kita.
Sejak zaman dahulu teknologi sebenarnya telah ada dan atau manusia pun sudah menggunakannya. Ketika manusia memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah misalnya, sesungguhnya mereka telah menggunakan teknologi, yaitu menggunakan teknologi sederhana. Pengertian ini seharusnya menuntun para guru dalam menghapus misconception dan merubah persepsi tentang teknologi yang berlangsung selama ini. Teknologi kini harus dipandang secara luas, yakni menyangkut teknologi modern (canggih) dan teknologi sederhana. Proses pembuatan tempe, tahun, tape dan atau membuat rancangan/desain kandang ayam adalah contoh teknologi sederhana yang banyak ditemukan di sekitar kita. Mengapa tidak kita kembangkan dalam pembelajaran Sains?
Pengembangan Bahan Ajar
Dunia anak didik kita, saat ini telah banyak dipenuhi dengan beraneka ragam mainan. Mulai dari mobil-mobilan, pesawat terbang, boneka-bonekaan, perkakas alat dapur dan lain sebagainya. Bahan dasar pembuatannya ada yang berasal dari kayu, plastik hingga terbuat dari logammetal; dengan bentuk mulai dari ukuran mini hingga jumbo, dan dengan harga yang bervariasi, dari yang relatif murah hingga yang mahal. Semua tersedia di toko-toko mainan. Mengapa tidak kita kembangkan dan kita gali sebagai media dalam pengajaran Sains?
Mainan/toys dengan segala sifat yang dimilikinya, menurut Thomas O’Brien (1993) dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, mengkonkretkan teori-teori abstrak, relevan dengan siswa, serta digunakan untuk mendemonstrasikan teori-konsep Sains dalam dunia nyata siswa. Mainan juga mampu memberi dorongan kepada siswa untuk membangun kreativitasnya, dengan mengkonstruksi model sebuah project (misal merancang/membuat mobil mainan bertenaga baterry sebagai penggerak) serta dapat digunakan sebagai alat simulasi praktikum.
Selanjutnya kegiatan masak-memasak/cooking kini pun bukan lagi monopoli wanita. Saat ini bayak dijumpai koki laki-laki di berbagai restoran. Kegiatan cooking pun kini pun familier dan popular dikalangan siswa-siswi. Tidak jarang siswa laki-laki membantu ibu mereka di dapur, meskipun hanya sekedar merebus air. Oleh karena itu, cooking sangat relevan bila dikembangkan untuk menggali konsep Sains dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Menurut Klindworth (2000), partisipasi aktif siswa dalam kegiatan cooking, memungkinkan mereka memperluas pemahaman bagaimana saintis bekerja. Ketrlibatan siswa seperti ini akan mengembangkan ketrampilan dan kemampuan siswa dalam melakukan pengamatan, perencanaan dan pelaksanaan, analisis dan penelitian , memebuat dugaan sementara serta menyimpulkan dan mengkomunikasikan hasil. Kompetensi dasar seperti inilah yang akan dikembangkan dalam mendatang, dengan mengembangkan ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah kepada siswa.
Ketika siswa praktik membuat misalnya, guru dapat menggali pengetahuan siswa tentang konsep kalor perubahannya. Atau melakukan ukuran suhu zat dengan termometer dalam memasak menggunakan tungku listrik, guru pun mengembangkan konsep Sains terhadap daya dan energi listrik dan lain sebagainya. Mengapa guru Sains tidak menjalin kerja sama dengan guru ketrampilan?
Makanan ringan seperti chiken, indomie, cokelat, susu dan lain-lain, akrab dalam kehidupan siswa sehari-hari. Hampir semua makanan ringan menggunakan teknologi kemasan. Mengapa digunakan sebagai bahan penelitian? Penelitian tentang bahan makanan yang ada pada kemasan dapat menumbuh-kembangkan ketrampilan proses siswa. Penelitian ini pun dapat merubah pola makan jajan siswa, karena siswa telah mengetahui dan mampu membedakan mana yang sehat, seimbang dan bergizi bagi tubuhnya.
Sementara, dalam kehidupan sekarang siswa bayak dihadapkan pada ragam jenis dan produk teknologi yang dijumpai, dimanfaatkan maupun dinikmati. Mereka akrab dengan radio, TV, Video, CD, kulkas/freezer, kodak dan lain-lain. Mengapa tidak kita gunakan sebagai media dalam pembelajaran? Video, VCD dan komputer dalam pembelajaran misalnya, dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengejaran (Wong & Smith, 1995) dan seorang guru dalam meningkatkan perhatian, minat dan motivasi belajar karena mampu menampilkan gambar animasi, suara dan lain sebagainya (...and Brook, 1996). Selain itu digunakan sebagai alat bagi siswa dalam mengajarkan konsep-konsep. Siswa pun dapat melakukan melalui latihan/driil soal-soal secara berulang-ulang.
Salah satu kelemahannya adalah banyak ditemukan di pasaran, kaset atau CD program pengajaran, pun kalau ada, instruksi yang ditampilkan seringkali complicated sehingga dibutuhkan kejelian untuk mengintegrasikan dalam pengajaran kelas. Inilah peluang bisnis para pengusaha, untuk kerja sama dengan para pakar pendidikan untuk menyediakan CD atau kaset yang berisi program pengajaran. Kelemahan yang lain adalah, masih banyak guru yang memiliki kemampuan teknologi rendah, sehingga perlu pembenahan SDM guru terutama yang menyangkut kemampuan penggunaan teknologi dalam pengajaran.
Akhirnya, upaya alih Sains dan Teknologi yang menjadi agenda bangsa dan telah diamanatkan kurikulum 2006 (KTSP), akan dapat tercapai secara optimal bila pengelola pendidikan (kepala, guru dan orang tua siswa) benar-benar berupaya secara sungguh-sungguh. Artinya, meskipun produk teknologi canggih penunjang KBM belum tersedia di sekolah, para guru tetap berupaya memberikan bekal kemampuan/kompetensi teknologi kepada siswa-siswi. Semoga.

Lanjutkan ... → KTSP dan Agenda Pendidikan Teknologi

Antagonistik Pendidikan Indonesia

Sering kita mendengar bahwa kualitas pendidikan negara kita sangat rendah. Salah satu indikator ketikdakberhasilan ini ditunjukan antara lain dari nilai hasil UN siswa untuk berbagai bidang studi pada jenjang SLTP dan SLTA dan tidak ada kenaikan berarti. Bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah dengan jumlah yang relatif kecil. Sistem pendidikan yang selama ini diterapkan dikatakan belum mampu menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing dipasar bebas. Buktinya, dalam berbagai lomba akademis di tingkat regional dan internasional misalnya, hampir dapat dipastikan siswa-siswi kita sukar untuk berprestasi secara optimal.

Secara obyektif diakui “siswa-siswi kita pernah berprestasi di forum Asian Physics Olympiads (Apho) ke-2 di Taiwan. Akan tetapi dalam forum yang luas, kita lebih banyak kalah daripada menangnya.di forum Internasional Mathematic Olympic (IMO) misalnya, delegasi kita belum pernah meraih prestasi memadai. Begitu pula pada forum The Third International Mathematics and Science Study (TIMS). Dari puluhan ribu siswa usia 13 tahunan (siswa setingkat SLTP) dari 42 negara, prestasi kita menempati rangking 39 dari 42 negara untuk bidang studi matematika. Sedangkan untuk IPA/sains, kita berada pada rangking 40 dari 42 negara. Prestasi siswa-siswi kita masih kalah dengan Singapura, Malaysia dan bahkan satu peringkat di bawah Vietnam. Pokoknya banyak sekali bukti-bukti yang mendukung dan membenarkan penilaian tentang rendahnya mutu pendidikan kita.
Berbeda bila kita melihat kenyataan di lapangan, maka akan timbul keraguan terhadap penilaian di atas. Kalau memang mutu pendidikan kita rendah, mengapa tingkat kenaikan di kelas dan kelulusan di sekolah-sekolah kita tetap tinggi. Meskipun prestasi belajar siswa sangat rendah, mengapa akhirnya mereka harus naik kelas. Meskipun nilai UN siswa dikatan sangat memprihatinkan, mengapa tetap saja diluluskan.
Kita semua mafhum bahwa setiap guru mengetahui tentang teori evaluasi dalam proses belajar mengajar. Tetapi dalam prakteknya, semua itu dikesampingkan dalam membuat keputusan kenaikan kelas. Pendekatan acuan norma (norm reference) serta acuan patokan (criterion reference) yang mestinya digunakan ternyata ditabukan karena bila hal itu dipakai, maka akan didapati banyak siswa-siswi kita yang tidak naik kelas dan tidak lulus. Sehinga dengan alasan kemanusiaan, guru dan Kepala Sekolah berusaha menaikan kelas dan meluluskan ujian sebanyak mungkin siswa, tanpa memperhatikan kemampuan nyata yang dimiliki siswa. Nilai prestasi siswa juga banyak yang dipalsu dan dimanipulasi. Rumus “akal-akalan” pun dibuat agar siswa dapat naik kelas dan lulus ujian tanpa hambatan. Dengan metode seperti ini, meski NEM matematika dan fisika tiga, atau nilai SKI dan Bahasa Arab empat siswa dapat dinaikkan atau diluluskan.
Semua ini terjadi karena sistem pendidikan di negara kita yang mengkondisikan demikian. Ada aturan yang tersirat bahwa angka kelulusan di sekolah harus mendekati seratus persen. Bila tidak, guru akan dimarahi kepala sekolah karena dinilai tidak mampu mengajar. Selanjutnya kepala sekolah dimarahi pengawas karena tidak dapat memimpin dan pengawas pun dimaarahi pejabat di atasnya karena tidak menjalankan tugas kewenangannya dalam mengawasi, membina dan membimbing, dan begitulah seterusnya.
Sebenarnya sistem, metoda dan pendekatan tentang kenaikan kelas dan kelulusan ujian siswa seperti ini bersifat antagonistik dengan usaha meningkatakan kulaitas pendidikan. Di satu sisi, kita menggembar-gemborkan tentang perlunya meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita. Akan tetapi langkah-langkah yang kita tempuh secara tidak sadar justru menghambat upaya peningkatan kualiatas tersebut. Semua ini terjadi karena budaya kita yang selalu ingin membahagiakan atasan, sehingga profesionalisme seakan terabaikan. Akibatnya, cara apapun dilakukan demi menjaga nama baik, dan tidak dimarahi atasan.
Salah kaprah ini harus segera diakhiri bila kita benar-benar ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Kita harus berani mengambil resiko tentang banyaknya anak yang tinggal kelas atau tidak lulus dalam ujian. Padahal resiko ini sebenarnya dapat meningkatkan motivasi siswa untuk berprestasi. Jadi jangan lagi ada istilah “pasti naik kelas” ataupun “pasti lulus ujian”, jika sekolah kita tidak ingin diremehkan dan tidak ingin dianggap “sekolah gampangan”.
Kemudian budaya marah-marahi dari atasan terhadap bawahan juga harus segera ditinggalkan. Kita harus sadar bahwa setiap manusia, siapapun orangnya, setinggi apa jabatannya, pasti memiliki kelemahan di samping kemampuan. Jadi, janganlah kesalahan dijadikan kambing hitam atas kegagalan. Dan, jangan pula jabatan dijadikan alat untuk menekan dan ataupun untuk menutupi kelemahan karena ketidakmampuan. Karena pejabat yang arif adalah mereka yang selalu mendengar saran, adil dalam menentukan keputusan dan selalu meningkatkan kemampuan. Sehingga tidak hanya datang dan tanda tangan serta menyerahkan sepenuhnya kepada bawahan. Tetapi datanglah dengan wejangan-wejangan pengetahuan dan pengalaman.
Semoga ini bisa dijadikan sebagai dasar renungan, cambuk untuk menggali pengetahuan dan meningkatkan kemampuan bagi kita guru dan karyawan Tata Usaha, Kepala Sekolah, pengawas dan lainnya. Pokoknya semua atasan dan bawahan yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Lanjutkan ... → Antagonistik Pendidikan Indonesia

Menjadi Guru Yang Kreatif dan Inovatif

Guru berasal dari bahasa Sansekerta, Gu : gelap, Ru : menghilangkan , jadi artinya menghilangkan kegelapan. Guru adalah agen pembelajar. Pembelajaran akan berlangsung apabila ada guru dan siswa. Guru mempunyai peran yang cukup besar di dalam memotivasi, memberikan contoh ide-ide kreatif di dalam proses pembelajaran kepada peserta didik.

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bisa membuka wawasan, kreatifitas dan pola berpikir mandiri kepada peserta didik. Konsep pembelajaran yang mengacu pada teoritis dan hafalan saja akan membosankan. Siswa akan gampang lupa, terhadap apa yang baru dihafalkan.

Konsep pembelajaran yang kreatif dan inovatif adalah gaya pembelajaran yang memadukan teoritis, penerapan dalam kehidupan sehari-hari dan peduli terhadap kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masayarakat. Jadi selain berguna bagi pengembangan ilmu itu sendiri, juga paling tidak bias membantu memecahkan permasalahan yang ada di masyarakat. Dengan pembelajaran yang kreatif dan inovatif siswa mempunyai pengalaman belajar dan life skill yang akan dibawanya sebagai bekal hidup.

Contoh pembelajaran kreatif adalah : sosio drama, praktikum, studi lapangan, studi kasus, kunjungan ilmiah ke perusahaan atau instansi pemerintah. Dengan pembelajaran seperti ini anak didik tidak muda lupa, sehingga kalau ada masalah , siswa akan mampu memecahkannya, karena dia sudah mengalaminya dengan praktek. Simak saja misalnya pada waktu terjadi Tsunami di Aceh tahun 2006 lalu. Pada saat terjadi menjelang Tsunami dimana terjadi gempa dan laut menjadi surut, tiba-tiba orang berdatangan sibuk mengambil ikan, karena lautnya surut, bukanya mempersiapkan diri karena akan terjadi gelombang pasang yang dasyat untuk menyelamatkan diri. Hal ini semata-mata karena ketidaktahuan mereka akan Tsunami, ini tidak terlepas dari system belajar mereka dulu, yang hanya menghafal.. Coba kalau pembelajaran Geografi tentang Tsunami dibuat dengan metode sosiodrama, mungkin kejadianya akan lain, ilmu akan tertanam lama dalam benak pikiran siswa, sehingga apabila ada gejala gempa yang berpotensi untuk Tsunami, maka mereka akan bisa menyelamatkan diri, bahakan menyelamatkan orang lain dengan cara memberitahukan kepada orang lain

Pendidikan yang berhasil apabila mengkaitkan ilmu(sains), lingkungan dan masyarakat. Ambil contoh saja saya sebagai guru Biologi SMA, saya berusaha terus agar pembelajaran tidak membosankan,tapi menantang dan meyenangkan peserta didik. Misalnya pelajaran biologi ada 4 jam per minggu, yang 2 jam per minggu untuk praktikum. Dari yang saya amati selama 7 tahun mengajar siswa lebih bersemangat dan berminat dalam pelajaran biologi, ditandai dengan nilai biologi yang cukup bagus.

Saya akan memberikan contoh pembelajaran yang mengkaitkan ilmu, lingkungan dan masyarakat serta kreaatifitas. Siswa kita ajak ke pasar buah disana siswa akan melihat buah-buah yang tidak terjual akan mcepat sekali mengalami kerusakan (pencoklatan (browning),memar, mengekerut) sehingga tidak layak dijual, namun layak dikonsumsi. Buah yang tidak laku dijual namun layak konsumsi perlu mendapaatkan penanganan, antara lain bias diolah menjadi produk baru seperti wine. Nah tindakan ini akan menolong masyarakat, karena limbah buahnya terjual, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi, dari buah yang tidak ada harganya.

Penulis pernah mengadakan survey ke pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur. Limbah buah-buahan yang tidak laku dijual namun layak konsumsi bias mencapa 2 truk perhari., belum lagi pi pasar tradisonal, pedagang kakli lima. Berapa ton per hari buah yang tidak laku jual namun layak konsumsi ini beluk ditangani. Menurut Susanto dan Saneto (1994), bahwa kerusakan produk buah-buahan bias mencapai 35 – 40 % karena proses pemanenan, penanganan dan sistribusi.

Kesimpulanya pembelajaran kreatif dan inovatif dimulai dari sang guru sebagai motivator. Ide-ide kreatif bias datang dari mana saja, mulai dari hal-hal terkecil, yang dianggap orang remeh sekalipun. Selamat mencoba. Oleh: Yulianto, S.P.
Lanjutkan ... → Menjadi Guru Yang Kreatif dan Inovatif

Sains dalam Catatan Roy Sembel

Roy Sembel adalah Co-founder Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Beliau menggaris bawahi beberapa hal berkaitan dengan pembelajaran Sains di Indonesia. Menurutnya ada beberapa faktor yang masih sangat perlu dibenahi untuk menghasilkan pembelajaran sains pada umumnya dan fisika pada khususnya.

Di mana salahnya ?
Pertama dan yang terpenting adalah faktor motivasi belajar sains. Harus diakui, sains masih dianggap sebagai ilmu sulit dan tidak membawa hasil memadai. Kesuksesan TOFI dan tim olimpiade sains lainnya memang telah mulai membantu menaikkan citra ilmu sains di masyarakat. Namun peningkatan yang telah terjadi masih jauh dari cukup karena baru menyentuh sebagian kecil dari masyarakat. Social marketing yang lebih terpadu melibatkan kerjasama antara pemerintah,media massa, dunia akademis dan dunia bisnis diperlukan agar citra ilmu sains meningkat. Peningkatan citra ini diharapkan meningkatkan motivasi pelajar dalam mempelajari ilmu sains secara lebih `greget'.
Sentra-sentra percontohan sains masih sangat terbatas di kota besar saja. Acara sains yang dikemas menarik baru ada di beberapa media cetak atau TV.

Citra sains juga terkait dengan lapangan kerja dan penghargaan yang tersedia bagi para pakar sains. Industri yang dikembangkan ternyata tidaklah dipertautkan kekayaan yang dimiliki Indonesia (natural resources dan biodiversity). Kesulitan yang dialami PT Dirgantara Indonesia semakin menurunkan citra insutri berbasis sains di Indonesia.

Kedua, faktor ketersediaan guru sains yang berkualitas. Dari hasil tes TOFI terhadap sekumpulan guru fisika, terlihat bahwa penguasaan mereka terhadap materi fisika yang harus mereka ajarkan masih sangat lemah. Banyak di antara guru-guru itu yang memperoleh skor lebih rendah dari 10%. Kalau gurunya saja masih parah, bagaimana dengan muridnya. Saat ini TOFI sudah mulai menjalankan program pelatihan guru fisika. Namun tentu dengan sumber daya terbatas, jangkauan dan dampaknya masih terbatas.

Ketiga, fasilitas pendidikan. Pembelajaran sains membutuhkan alat peraga dan laboratorium. Perlengkapan tersebut relatif mahal. Tidak banyak sekolah yang bisa menyediakannya secara memadai. Ini juga sedikit banyak tercermin dari kelemahan siswa TOFI yaitu skor ujian eksperimen. Selain itu, ketersediaan buku atau piranti lunak pembelajaran fisika dengan harga memadai sangat kurang di Indonesia. Kurangnya fasilitas penunjang proses pembelajaran menyebabkan pelaksanaan belajar mengajar terhambat. Kurikulum pun tidak bisa dikembangkan secara optimal. Akibatnya, pembelajaran sains yang seharus banyak menggunakan experiential learning malah menjadi setumpuk hafalan rumus yang membosankan. Motivasi belajar pun menurun. Untuk skala terbatas seperti TOFI, kekurangan itu bisa sedikit disiasati. Untuk skala besar se-Indonesia, kekurangan fasilitas itu menjadi tantangan yang sangat berat.

Apa yang harus dilakukan ?
Adanya tantangan berat itu jangan membuat kita menyerah. TOFI pun bisa sukses meski dimulai hanya dengan segelintir mahasiswa bermodal idealisme. Titik awal yang harus ada adalah idealisme dan komitmen dari para pemimpin negara untuk memajukan pembelajaran pada umumnya dan pembelajaran sains pada khususnya. Komitmen untuk mengalokasikan dana yang lebih besar merupakan indikasi awalnya. Sebagian dari
hambatan yang diuraikan sebelumnya dapat diatasi bila alokasi dana untuk pembelajaran diperbesar dan dialokasikan secara efisien. Seandainya saja dana sebesar dana pembelian Sukhoi dialokasikan untuk meningkatkan kualitas guru dan fasilitas pembelajaran serta mempergencar social marketing peningkatan citra sains, dampaknya bisa sangat besar dan berkelanjutan. Subsidi yang dicabut seharusnya
adalah subsidi bagi barang-barang konsumtif. Aktivitas yang diinginkan untuk dilakukan lebih banyak lagi oleh masyarakat karena membawa dampak positif jangka panjang, seperti pendidikan, wajib terus mendapat prioritas subsidi.

Dalam era otonomi daerah, terlihat ada beberapa daerah, seperti Riau, yang berkomitmen terhadap pembelajaran sains. Banyak program peningkatan pembelajaran sains yang mulai memperlihatkan hasil di daerah-daerah tersebut. Daerah-daerah tersebut bisa dijadikan percontohan bagi daerah lain.

Kompetisi adalah salah satu pemicu motivasi belajar. Olimpiade sains tingkat kabupaten perlu diprogramkan sehingga akan muncul TOFI-TOFI pada tingkat mikro dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Kompetisi inovasi dan bisnis seperti dipelopori oleh Yayasan Progressio (http://www.progressio.or.id) merupakan langkah inovatif untuk menjembatani sains dan bisnis. Penciptaan lapangan kerja dan
nilai tambah dengan memanfaatkan penemuan sains yang selama ini tidak terpakai akan menambah motivasi orang untuk lebih mempelajari sains. Kompetisi seperti itu pun perlu digalakkan dengan cakupan yang lebih luas dan juga pada level lebih mikro di tingkat daerah. Peningkatan motivasi, pemberian akses memadai, pembekalan (pelatihan
yang baik, guru berkualitas, dukungan prasarana yang prima) memang tidak bisa instan atau karbitan. The law of process berlaku di sini. Untuk itu diperlukan komitmen jangka panjang yang harus diikuti dengan langkah nyata agar dunia sains di Indonesia berkembang pesat. Tantangan ke depan memang berat. Memang diperlukan pengorbanan
kerjakeras, kerjacerdas, dan kerjasama untuk mencapai hasil yang didambakan. Mari berhenti berkeluhkesah dan mulai berkontribusi dalam kapasitas kita masing-masing. Dari pada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Selamat berjuang duta Bangsa Indonesia di Olimpiade Fisika Internasional dan olimpiade sains lainnya.

Lanjutkan ... → Sains dalam Catatan Roy Sembel
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading