Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kepada bapak/ibu guru, silahkan kirim artikel pendidikan atau hasil penelitian yang telah di lakukan untuk dimuat di blog ini

Blogroll

RelmaxTop. Free powerful counter for your website

2012, Tahun Pendidikan Berkarakter

Tahun 2012 menuju pendidikan berkaraktakter, pasti kata itu sering kita dengar apalagi bagi orang-orang yang berada pada bidang pendidikan.
Pendidikan berkarakter itulah yang di gencarkan oleh pemerintah, melihat pendidikan kita sekarang dalam keadaan yang terpuruk, dikatakan terpuruk karena pelajar yang seharusnya menjadi anak yang bermoral malah menjadi anak yang tidak tahu norma. Inilah yang pemrintah inginkan. Namun apakah hal ini akan tercapai jika kurikulum tetap diganti dengan kurikulum berbasis karakter.

Apa sebenarnya kurikulum pendidikan berkarakter? Sejak beberapa tahun ini muncul istilah pendidikan berkarakter untuk mengintrodusir dunia pendidikan supaya memedulikan pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Mirip dengan itu, belasan tahun yang lalu pernah diwajibkan memberikan pelajaran Budi Pekerti di sekolah. Bahkan tercatat juga pernah muncul keharusan mengintegrasikan iman dan taqwa (imtaq) dalam setiap pembelajaran di sekolah.
Dengan pendidikan berkarakter diharapkan keseluruhan proses pendidikan yang dialami peserta didik menjadi pengalaman dalam pembentukan kepribadian dengan cara memahami dan mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal agama dan budaya.
Sesuai wacana yang berkembang, secara sederhana pendidikan berkarakter adalah segala sesuatu yang dilakukan sehingga memengaruhi karakter peserta didik. Thomas Lickona, dalam Education for Character mendefinisikan bahwa pendidikan berkarakter adalah usaha sengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti.

Inilah solusi pemerintah untuk menghasilkan peserta didik yang mampu sesuai tujuan Negara yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa.

Dapat dilihat dari berbagai sisi ide tentang kurikulum ini. Pertama, jika kita berfikir standar memang bagus memberikan pelajaran atau cara belajar anak dengan kurikulum berkarakter agar murid berlatih jujur, sabar, terampil, spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia. Dalam pelajarannya anak dituntut seperti itu.

Kedua, apakah cukup dengan pendidikan disekolah nantinya anak benar-benar dapat bersifat seperti itu sedangkan dilikungan sendiri masih banyak yang harus diperbaiki, contoh budaya anak muda yang pacaran, jika seorang anak melakukan pacaran, seks bebas, maka nilai akhlak mulia tidak hilang dan tujuan untu menjadi anak-anak yang berkarakter gagal.

Ketiga, jika anak-anak dilatih untuk berakhlak mulia dengan pendidikan berkarakter ini sudahkah para guru dan penguasa atau orang yang dianggap tua oleh anak-anak memberikan contok yang terpuji juga. Tidak cukup dengan guru yang mengajar lulus dari mata kuliah karakter sekarang dinamakan dengan PPG (pendidikan profesi guru) juga mencakup bagaimana guru memahami dan melatih anak menjadi berkarakter yang mulia, tepatnya menjalankan perintah Allah.

Jika pendidikan berkarakter ini terus dibumingkan dan akan diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia, maka jelas sudah bahwa Indonesia belum berkarakter alias moral dan akhlak anak-anak atau pemuda belum berkarakter.

Lalu apa penyebab dari ini semua, mengapa Indonesia harus sering berganti system kurikulumnya?.inilah sebenarnya fakta yang sudah jelas didepan mata bagaimana system pendidikan kita yang bermasalah, apapun kebiakan pemerintah tidak ada yang bisa menghasilkan anak didik yang sesuai dengan tujuan yang mampu membangkitkan umat dan taat pada Allah.

Jika kita mau berfikir bahwa kita adalah orang islam pasti lah segala peraturan itu sudah ada yang membuatnya yaitu Allah SWT, islam telah mengatur bagaimana system pendidikan yang tepat bukti ketika masa zaman kejayaan islam dulu tidak perlu ganti-ganti kurikulum tetapi pemuda islam sudah mampu menjadi luar biasa, anak 7 tahun sudah bisa mengahafal alqur’an, banyak cendekiawan muslim yang tidak hanya ahli dalam satu hal tapi berbagai hal. Kuncinya adalah taat pada peratuaran Allah dan menjauhi larangan Allah. Didukung pula dengan system islam yang kaffah sehingga dimanapun berada akan diatur oleh peraturan islam. Berbeda dengan sekarang ingin mempertbaiki masalah pendidikan tapi masalah social rusak, ekonomi yang sulit sehingga tidak jarang anak-anak nekat mencuri untuk memenuhi kebutuhannya, budaya barat menjamur,jika tidak pacaran tidak keren. Itulah yang terjadi sekarang. Masalah ini bukan masalah parsial (sebagian) tapi masalah menyeluruh maka harus diselesaikan secara menyeluruh. Dan jelas bahwa sebenarnya islam punya solusi yaitu yaitu dengan menaati segara peraturan Allah, peraturan itu tidak akan sempurna jika tidak ada intitusi yaitu Negara. Maka daulah islam lah (khiLAFAH islamiah) yang dapat menjalankan peraturan islam secara kaffah. Pendidikan tidak perlu lagi tambal sulam karena islam mengatur secara menyeluruh.

Jadi sebenarnya kurikulum pendidikan berkarakter itu tidak bisa dikatakan sebagai solusi untuk anak didik sekarang selagi system kufur kapitalis sekuler ini masih mencekram dunia, maka dari itulah sadarlah bahwa ummat islam harus bangga dengan islamnya dan wajib menjalankan seluruh aturan Islam. Najla Amirah Mardhiyah

Lanjutkan ... → 2012, Tahun Pendidikan Berkarakter

Ulat Bulu Merebak Karena Ekosistem Rusak

Tahukah kamu fenomena alam, ulat bulu yang kini menyerang beberapa daerah seperti: Kebumen, Propolinggo, Malang, Bali dan Demak dan mungkin daerah lain yang belum terdeteksi keberadaannya. Mengapa semua itu terjadi? Mengapa tiba-tiba menyerang suatu daerah? Mari kita simak posting berikut, terkait dengan merebaknya ulat bulu di beberapa daerah.

Ulat adalah tahap larva dari spesies dalam ordo Lepidoptera, yang mencakup kupu-kupu dan ngengat. Kebanyakan adalah pemakan tumbuhan walaupun beberapa spesies merupakan pemakan serangga. Kebanyakan ulat dianggap sebagai hama dalam pertanian. Banyak spesies ngengat dikenal karena tahap ulatnya menyebabkan kerusakan pada buah dan produk pertanian lainnya.

Kebanyakan ulat memiliki badan panjang dan berbentuk gilig (silinder). Ulat memiliki tiga pasang tungkai yang sejati pada tiga segmen dada, ditambah dengan empat pasang tungkai semu yang disebut tungkai perut pada segmen tengah perut dan sering sepasang tungkai perut pada segmen perut terakhir. Ulat mempunyai sepuluh segmen perut. Perhatikan bagian-bagian ulat berikut ini:

1. Kepala
2. Dada
3. Perut
4. Spirakulum
5. Kait anal
6. Tungkai perut (abdominal)
7. Segmen
8. Tungkai dada (thoracis)
9. Antena


Ekosistem Rusak
Banyak para peneliti yang berpendapat bahwa merebaknya ulat bulu di beberapa daerah terjadi karena ekosistem kita rusak, sehingga tidak ada keseimbangan antara produsen dan konsumen. Sebagai contoh sebagai berikut:

Kondisi saat ini, predator jarang ditemui, atau bahkan tidak ada di lapangan. Semut-semut pemakan ulat ini pun jarang terlihat, pemakan paling keras ulat bulu kan semut rangrang (api).

Semut rangrang banyak yang diambil telurnya untuk makanan burung, sementara burung-burung pemakan ulat juga banyak yang ditangkap. Burung pemakan ulat populasinya semakin kecil berarti ekosistem yang ada di alam ini sudah mulai terganggu,” kata Suryawan.

Selain faktor ekosistem yang tidak seimbang, pertumbuhan ulat bulu ini juga dipengaruhi oleh cuaca. “Hujan berkepanjangan membantu mereka untuk membiak lebih kondusif. Kemudian tersedia bahan makanan bagi ulat semakin lengkap dan banyak sehingga membantu perkembangan mereka.
Lanjutkan ... → Ulat Bulu Merebak Karena Ekosistem Rusak

Crop Circle, Apakah itu??

Kalau dua crop circle sebelumnya muncul di Yogyakarta, kali ini fenomena serupa muncul di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Lokasi crop circle ketiga adalah di area persawahan Dusun Kumbangan, Desa Banyusari, Kecamatan Tegalrejo, Magelang.
Kini Crop Circle menjadi topik yang ramai diperbincangkan, banyak dilihat, ditonton dan banyak diperdebatkan, siapa yang membuat? Bagaimana cara membuatnya?, apakah dibuat manusia atau makhluk angkasa luar (UFO).

Crop circle adalah pola yang cukup besar yang diciptakan dengan cara mendatarkan tanaman seperti gandum, barley, rye, jagung, atau lobak. lingkaran Tanaman juga disebut sebagai formasi tanaman, karena mereka tidak selalu dalam bentuk melingkar. Sementara lingkaran tanggal yang tepat tanaman mulai muncul tidak diketahui, kasus-kasus yang telah didokumentasikan secara substansial meningkat dari tahun 1970an sampai waktu saat ini. Dua puluh enam negara berakhir dengan melaporkan sekitar sepuluh-ribu lingkaran tanaman, pada sepertiga terakhir abad ke-20, dan 90% dari mereka yang terletak di Inggris bagian selatan [1] Banyak dari formasi muncul di daerah yang. Diposisikan dekat monumen kuno , seperti Stonehenge. Hampir setengah dari semua kalangan yang ditemukan di Inggris berada dalam radius 15 km dari Avebury [2].. Formasi biasanya dibuat semalam, namun juga telah dibuat di siang hari. Metode yang paling dikenal bagi seseorang atau kelompok untuk membangun pembentukan tanaman adalah mengikat salah satu ujung tali ke titik jangkar, dan ujung yang lain ke papan yang digunakan untuk menghancurkan tanaman. metode lebih baru termasuk penggunaan roller rumput.

Beberapa formasi tanaman yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan yang menggunakan mereka sebagai iklan. [3] formasi lainnya kadang-kadang diklaim oleh individu atau kelompok-kelompok tanpa bukti apapun untuk mendukung pernyataan mereka, biasanya setelah akibat hukum yang tidak diinginkan menjadi tidak mungkin.
Beberapa orang telah berpendapat bahwa Crop circle adalah hasil dari fenomena meteorologi yang luar biasa. Hipotesis ini mungkin berasal dari publikasi 1880 di Nature oleh penyidik dan ilmuwan amatir John Rand Capron. Bagian dari publikasi muncul kembali dalam edisi Januari 2000 Jurnal Meteorologi: [13] [14]
"Badai tentang bagian dari Surrey Barat telah akhir-akhir ini lokal dan kekerasan, dan efek yang dihasilkan dalam beberapa kasus aneh. Mengunjungi peternakan tetangga pada Rabu malam (21), kami menemukan bidang gandum berdiri jauh mengetuk tentang, bukan sebagai keseluruhan, tetapi dalam membentuk patch, seperti yang terlihat dari kejauhan, tempat melingkar ... Aku tidak bisa melacak secara lokal apapun keadaan akuntansi untuk bentuk-bentuk aneh dari patch di lapangan, tidak menunjukkan apakah itu angin atau hujan, atau keduanya digabungkan, yang telah menyebabkan mereka, di luar bukti umum di mana-mana hujan lebat. Mereka sugestif kepada saya beberapa tindakan angin siklon ...

Sejak muncul di media pada 1970-an, Crop circle telah menjadi subjek spekulasi oleh penyidik paranormal, ufological, dan berbagai tdk normal mulai dari proposal yang mereka diciptakan oleh fenomena meteorologi aneh untuk pesan dari makhluk luar angkasa. [15] [16] [17 ] [18]

Lokasi lingkaran tanaman banyak di dekat situs kuno seperti Stonehenge, gerobak, dan kuda banyak kapur telah menyebabkan sistem New Age kepercayaan untuk memasukkan lingkaran tanaman, berspekulasi keberadaan mereka dalam kaitannya dengan garis ley. [15] [19] [20]

Beberapa pendukung New Age mempunyai lingkaran tanaman dengan hipotesis Gaia, menyatakan bahwa "Gaia", bumi, sebenarnya hidup dan bahwa lingkaran tanaman adalah pesan atau tanggapan terhadap rangsangan seperti pemanasan global dan polusi manusia. Hal ini menegaskan bahwa bumi dapat dimodelkan sebagai jika tunggal super-organisme, dalam komponen duniawi (misalnya biota, iklim, suhu sinar matahari,, dll) mempengaruhi satu sama lain dan diselenggarakan untuk fungsi dan mengembangkan secara keseluruhan. [21]

Kritik utama makhluk non-manusia dugaan Crop circle adalah bahwa ketika bukti asal usulnya, selain kesaksian saksi mata, pada dasarnya tidak ada, beberapa pasti dikenal karya pranksters manusia dan orang lain dapat secara memadai dijelaskan seperti itu. Ada kasus dimana peneliti menyatakan lingkaran tanaman untuk menjadi "hal yang nyata", hanya untuk dihadapkan dengan orang-orang yang menciptakan lingkaran dan didokumentasikan penipuan (lihat di atas). [22] Pada tahun 1997 bukunya The Demon-Haunted World : Sains sebagai Candle in the Dark, Carl Sagan membahas teori-teori asing berbasis tanaman formasi lingkaran. Sagan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti empiris ada untuk menghubungkan UFO dengan lingkaran tanaman. [23] Banyak orang lain telah menunjukkan bagaimana kompleks lingkaran tanaman dapat dibuat. [24] [25] Scientific American menerbitkan sebuah artikel oleh Matt Ridley, [26] yang mulai membuat lingkaran tanaman di Inggris utara pada tahun 1991. Dia menulis tentang bagaimana mudahnya untuk mengembangkan teknik menggunakan alat sederhana yang dengan mudah bisa menipu pengamat nanti. Dia melaporkan pada "ahli" sumber seperti Wall Street Journal yang telah dengan mudah tertipu dan merenung tentang mengapa orang mau percaya penjelasan supernatural untuk fenomena yang belum dijelaskan. Metode untuk membuat lingkaran tanaman sekarang didokumentasikan dengan baik di internet. [24]
Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Crop_circle

Lanjutkan ... → Crop Circle, Apakah itu??

Pembelajaran Sains Dan Pendekatan CTL

Proses pembelajaran dirancang untuk memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya kepada siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif yang ditunjukkan siswa, baik berkaitan dengan aspek kognitif, keterampilan, maupun pematangan sikap dan kepribadian seperti rasa tanggung jawab, jujur, menghargai pendapat/karya orang lain.

Beberapa pendekatan dalam mengembangkan proses pembelajaran Biologi telah banyak diterapkan seiring dengan diberlakukannya berbagai kebijakan yang berkaitan dengan kurikulum. Pendekatan CBSA, Keterampilan Proses, Inkuari, Konstruktivisme, STS (Science Technology and Society), SETS (Science, Environment, Technology and Society), JAS (Jelajah Alam Sekitar) merupakan contoh pendekatan yang dapat diimplementasikan dalam pembelajaran Biologi. Melalui pendekatan-pendekatan tersebut juga telah dijabarkan ke dalam berbagai bentuk model dan strategi pembelajaran Biologi, yang penerapannya diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan kualitas belajar siswa.

Dalam perjalanannya, penerapan pendekatan-pendekatan dalam membelajarkan siswa tersebut mengalami kendala yang bersifat sistemik. Keterbatasan waktu, target ketuntasan pengeasaan materi pelajaran, serta sistem pengukuran dan pengujian hasil belajar siswa merupakan variabel-variabel utama yang menyebabkan belum terlaksananya pendekatan-pendekatan tersebut secara optimal.

Diberlakukannya kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), mengundang respon berbagai kalangan permerhati dan pelaksana pendidikan untuk memikirkan dan selanjutnya menyusun berbagai perangkat pendukung pembelajaran dalam rangka memenuhi harapan-harapan yang tertuang dalam Kurikulum 2004. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu perangkat alternatif untuk mewujudkan pembelajaran yang efisien dan efektif sesuai dengan kurikulum 2004.
Pendekatan CTL merupakan pendekatan dalam proses pembelajaran yang membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa sehingga mendorong siswa untuk mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang diperoleh dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui CTL, siswa dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran yang bermakna yang membantu mereka menghubungkan kajian-kajian akademik dengan situasi kehidupan nyata mereka.

Pendekatan CTL dikembangkan dengan memperhatikan 5 hal, yaitu:
1. Relating, yaitu kegiatan pembelajaran dengan menghubungkan konten/materi pelajaran dengan konteks sehari-hari yang mudah dikenali siswa.
2. Experiencing, yaitu pembelajaran yang dikembangkan agar siswa mampu mempelajari sesuatu dengan melakukan dan menemukan sendiri dengan daya kreasi dan imajinasinya.
3. Applying, yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa mampu menerapkan pengetahuan yang diperolehnya untuk memecahkan suatu permasalahan.
4. Cooperating, yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja sama dengan yang lain dalam melakukan kegiatan bermakna, menghargai dan mampu menanggapi dengan baik pendapat teman.
5. Transfering, yaitu pembelajaran yang mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menerapkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam situasi lain.

Penerapan pendekatan CTL yang baik yang dikemas dengan mengintegrasikan antara kegiatan yang bermakna dalam pembelajaran dan permasalahan yang tersirat dalam pelajaran, akan membiasakan siswa melakukan learning how to learn (belajar bagaimana seharusnya mempelajari sesuatu).

Dasar pengembangan pendekatan pembelajaran ini adalah sebagai berikut.
a. Hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar
• Siswa belajar dari mengalami, tidak hanya sekedar menghafal
• Pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan sesuatu yang terorganisasi.
• Proses belajar dapat merubah struktur kognisi di otak
• Pengetahuan merupakan keterampilan yang dapat diterapkan
• Siswa terbiasa menghadapi dan memecahkan masalah
b. Hal-hal yang berkaitan dengan transfer belajar
• Hasil belajar siswa tidak diperoleh dari pemberian orang lain
• Keterampilan dan pengetahuan dapat ditingkatkan, sedikit demi sedikit
• Penting dipahami oleh siswa “untuk apa” ia belajar, dan “bagaimana” ia menggunakan pengetahuan dan keterampilannya.

c. Siswa adalah manusia yang mampu belajar
• Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dan menekuni bidang tertentu
• Untuk mempelajari hal-hal tertentu dibutuhkan strategi belajar
• Peran guru adalah membantu menghubungkan apa yang telah diketahui siswa dengan pengetahuan yang akan dipelajari
• Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri

d. Pentingnya lingkungan belajar
• Pembelajaran akan lebih bermakna jika berpusat pada siswa.
• Siswa bekerja dan berkarya, guru mengarahkan
• Guru mengarahkan “bagaimana memperoleh pengetahuan” dan “bagaimana menerapkan pengetahuannya”
• Bekerja dalam kelompok kecil lebih efektif
• Assessment (pengukuran hasil belajar) yang benar akan membantu siswa.

Selanjutnya, bagaimana pelaksanaan CTL dalam pembelajaran Biologi?

Terdapat 7 komponen yang harus diperhatikan jika kita akan menerapkan pendekatan ini dalam pembelajaran Biologi. Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut.

1. Konstruktivisme
Strategi yang penting diperhatikan adalah “bagaimana siswa memperoleh pengetahuan”. Guru memberikan kesempatan dan mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuan melalui kegiatan yang telah direncanakan (by design).

2. Inquiry (menemukan)
Dengan mempersiapkan kegiatan yang bermakna, siswa diajak untuk melakukan penyelidikan dan penemuan. Keterampilan yang harus dicermati selama kegiatan ini berlangsung adalah merumuskan masalah, observasi, bertanya, mengajukan dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan.

3. Questioning (bertanya)
Bagi guru kegiatan bertanya dapat dimanfaatkan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan siswa. Sebaliknya bagi siswa, bertanya merupakan kegiatan untuk menggali informasi dan mengkonfirmasikan apa yang telah dipahami. Kegiatan bertanya ini dapat dilakukan oleh guru kepada siswa, siswa kepada guru, ataupun siswa kepada siswa lainnya (dalam kelompok).

4. Learning community/ sharing ideas (berbagi pengetahuan)
Setiap pihak harus sadar bahwa setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman. Jika setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang dapat menjadi sumber belajar. Pembentukan kelompok kemudian berdiskusi, mendatangkan “ahli/narasumber” ke kelas, merupakan langkah yang dapat ditempuh dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

5. Modeling (pemodelan)
Model yang diintegrasikan dengan tepat dalam pembelajaran akan membantu visualisasi siswa dalam memahami konsep yang dimodelkan. Model dapat berupa guru (mendemonstrasikan sesuatu), siswa (berperan sebagai sesuatu), atau dapat juga unsur dari ahli yang kompeten yang didatangkan sesekali waktu.

6. Reflection (refleksi)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Pada akhir pelajaran guru memberi kesempatan siswa untuk melakukan refleksi, pengendapan, mencatat apa yang telah dipelajari dan lebih memahami ide-ide baru tersebut. Pengendapan dapat berupa pertanyaan guru, kesan siswa terhadap pembelajaran, diskusi, atau menghasilkan sebuah karya.

7. Authentic assessment (pengukuran hasil belajar yang sesungguhnya)
Assessment merupakan proses pengumpulan berbagai data untuk memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Data ini dapat berupa tes tertulis, proyek (laporan kegiatan), karya siswa, performance (penampilan presentasi) yang terangkum dalam portofolio siswa.
SUMBER : Makalah Drs. Sigit Saptono, M.Pd
Lanjutkan ... → Pembelajaran Sains Dan Pendekatan CTL

Pembelajaran IPA Terpadu, Bagaimana?

Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah, dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.

Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu:
(1) sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA bersifat open ended;
(2) proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
(3) produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
(4) aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam menemukan fakta baru. Kecenderungan pembelajaran IPA pada masa kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA sebagai produk, menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.

Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual. Peserta didik hanya mempelajari IPA pada domain kognitif yang terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah peserta didik per kelas yang terlalu banyak.

Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar. Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai mata pelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan peserta didik, atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau ahli teknologi. Namun demikian, mereka tetap berharap agar pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan efektif.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta bumi dan alam semesta.

Indikator pencapaian kompetensi dikembangkan oleh sekolah, disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa meninggalkan isi kurikulum.

Melalui pembelajaran IPA terpadu, diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.

Lanjutkan ... → Pembelajaran IPA Terpadu, Bagaimana?
 

Blogger news

Blogroll

Most Reading